Singgih Kartono, Pembuat Radio Kayu dari Temanggung yang Mendunia (1)
Berawal dari kegemaran membuat produk berbahan baku kayu, Singgih Kartono terkenal sebagai pembuat radio kayu (wooden radio) yang sangat diminati pembeli dari luar negeri. Ia menyampaikan pesan soal menghargai lingkungan.
USAHA yang ulet dengan ditambah sikap sabar sering menjadi resep sukses banyak orang. Salah satu yang telah merasakan kemanjuran resep ini adalahsinggihKartono. Ia tanpa henti berkreasi dan menghasilkan produk berkualitas, pria asal Temanggung, Jawa Tengah, itu mampu meraih sukses, di dalam negeri maupun luar negeri. Singgih dikenal sebagai pembuat dan pendesain radio kayu (wooden radio) yang kualitasnya sudah diakui di banyak negara sejak hampir sepuluh tahun terakhir. Radio unik buatannya itu sudah tersebar ke luar negeri.
Mulai dari Jepang, Inggris, Perancis bahkan sampai ke negara-negara Skandinavia. Jepang, misalnya, tiap bulan meminta kiriman 50 unit Magno, merek radio kayu buatan Singgih. Jumlah itu belum seberapa dibanding pasar lain. Permintaan dari Amerika Serikat dan Kanada jauh lebih besar lagi. "Mereka sampai meminta 1.000 unit radio," ujarnya. Radio kayu buatansinggihmemang istimewa, sangat berbeda dengan produk radio lain.
Satu hal yang menonjol, tampilan luar (casing) radio itu terbuat dari kayu pinus dan sonokeling. Bentuknya juga unik. Mungil, mengingatkan pada bentuk radio tua yang cukup populer pada masa 30 tahun silam. Selain bentuk dan desain yang unik, bahan baku dari kayu disukai pembeli dari luar negeri lantaran dianggap lebih ramah lingkungan. Produk handmade ini melejit di tengah isu kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh industri besar. Saat ini, setiap bulan, di bengkel Piranti Works miliknya,singgihmemproduksi 300 radio kayu. Ia dibantu 32 karyawan.
"Semuanya berasal dari kampung saya di Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah," ujarnya. Singgih tak begitu saja mencapai kesuksesan. Idesinggihmembuat radio kayu sudah tercetus sejak lulus kuliah pada 1992. Waktu itu dia memang mendalami konsep radio kayu sebagai proyek tugas akhir di Jurusan Disain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Sayang, keinginan membuat radio itu harus mentok di tengah jalan. "Saya tidak punya dana buat modal produksi dan pemasaran," ujar Singgih. Alhasil, karena mentok dengan masalah klasik itu,singgih harus menyimpan rapat-rapat keinginannya itu. Setelah lulus kuliah,singgihbekerja di Bandung.
"Saya bekerja di perusahaan kayu," ujarnya. Sejak kecil, ia memang menyukai produk dengan bahan baku kayu. Di tempat kerja tersebut, kemampuan dan keahliansinggihjustru semakin terasah. Tiga tahun bekerja di perusahaan itu,singgihlantas memutuskan keluar dan membuka usaha sendiri. "Saya pulang kampung buat mendirikan usaha," ujarnya. Dengan modal kecil-kecilan, pada 1995, bersama dengan seorang temannya,singgihmembuat produk kerajinan berbahan kayu. "Saat itu, pertama kali, saya membuat mainan anak dari kayu," ujarnya. Tapi, kerjasama ini tak berlangsung lama.
Lantaran alasan perbedaan prinsip, kongsi itu putus di tengah jalan. Alhasil,singgihharus memulai lagi usaha pembuatan produk dari kayu dari nol. Dengan menggunakan sebuah ruang di rumahnya yang berukuran lima meter,singgihmulai kembali membangun usahanya. Ia mulai membuat produk-produk kayu seperti kaca pembesar dengan bingkai kayu dalam berbagai ukuran. Ia juga mulai membuat alat-alat kantor. Di sela pekerjaannya,singgihmasih sempat iseng-iseng membuat radio dari kayu. "Saya beli radio biasa di pasar, bungkus plastiknya saya preteli, lantas saya ganti dengan kayu," ujarnya. Singgih mulai aktif mengikutkan radio kayu buatannya di beberapa ajang kompetisi disain. Salah satunya adalah ajang International Design Resource Award di Seattle, Amerika Serikat pada 1997. Di ajang ini,singgihkeluar sebagai pemenang dan membuat dunia melek terhadap produk radio kayu buatannya. (Bersambung)
Singgih Kartono, Pembuat Radio Kayu dari Temanggung (2)
Meskipun memenangi penghargaan disain tingkat dunia, tidak mudah Singgih Kartono mewujudkan ambisinya untuk memasarkan radio kayu Magno. Pasalnya, untuk memasarkan produknya itu membutuhkan dana besar. Hingga, suatu ketika, pengusaha elektronik dalam negeri membantunya sehingga dia bisa menjual radio berbodi kayu buatannya.
MEMENANGI ajang lomba disain tingkat dunia tidak lantas membuat suatu produk melambung tinggi.singgihKartono sudah merasakannya. Meskipun menang ajang International Design Resource Award di Seattle, Amerika Serikat pada 1997, radio kayu buatannya tidak otomatis langsung terjual laris. Malah, sewaktu memasarkan dan memproduksi Magno Wooden Radio, nama radio itu, dia harus merogoh kantong sendiri dalam jumlah banyak. "Harga mesin dalam radio itu mahal. Saya belum mampu membelinya," ujarnya.
Alhasil, dia pun harus kembali mengurungkan niatnya menjual Magno. Padahal, ide itu sudah ada sejak dia lulus kuliah pada 1992. Waktu itu,singgihmemang mendalami konsep radio kayu sebagai proyek tugas akhir di Jurusan Desain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB). Singgih pun kembali ke bisnisnya selama ini, yakni memproduksi barang-barang kayu seperti alat-alat perkantoran.
Tapi, kondisi itu tidak berlangsung lama. Ogah menyerah pada keadaan, dia masih ngotot memproduksi dan memasarkan radio kayunya.singgihhanya berpikir bagaimana cara agar bisa bertandang ke luar negeri dan mencari pemodal yang bersedia menyuntikkan modal menjalankan usaha produksi radio kayunya itu. Kesabaransinggihmulai membuahkan hasil. Pada 2005, dia mendapatkan kesempatan terbang ke Jepang untuk mengikuti pameran di Negeri Samurai itu. "Karena saya memenangi sebuah penghargaan di Jakarta. Saya diutus pergi ke Jepang," ujarnya mengenang. Dia pun tak menyia-nyiakan kesempatan dengan membawa beberapa contoh produk radio buatannya ke pameran itu.
Namun, lagi-lagi nasib baik belum berpihak ke Singgih. "Responnya belum begitu positif," katanya. Dia hanya mendapatkan satu proyek di Jepang, yakni membuat mainan anak dari batok kelapa. Tapi, itu tidak membuatnya putus asa. Dia tetap menggarap proyek pesanan tersebut dengan senang hati. Akhirnya, titik terang muncul pada sebuah pameran di Jakarta. Di sana,singgihberkenalan dengan salah seorang pengusaha pemilik perusahaan elektronik besar. Pengusaha itulah yang menjanjikan sokongan dana untuk kegiatan produksi radio kayu.
"Akhirnya, komponen radionya tersedia," ujar Singgih. Alhasil, dia bisa memproduksi radio kayu dan memasarkannya ke berbagai negara. Pembeli asal Jepang yang dia layani dengan baik pun membantu memasarkan radio kayu itu. Berbekal sistem pemasaran online, Magno terus merangsek ke Jepang, Inggris, Prancis, bahkan sampai ke negara-negara Skandinavia. Di Jepang, misalnya, setiap bulan meminta kiriman 50 unit Magno. Radio kayu buatansinggihmemang istimewa, sangat berbeda dengan radio lain. Satu hal yang menonjol adalah tampilan luar (casing) radio yang terbuat dari kayu pinus dan sonokeling. (Bersambung)
Singgih Kartono, Pembuat Radio Kayu Magno (3-Selesai)
Bertahan di tengah persaingan bisnis bukan hal yang mudah. Jauh lebih sulit ketimbang memulai bisnis pertama kali. Singgih Kartono agaknya tahu betul tentang hal itu, utamanya dalam memasarkan radio kayu Magno. Dia pun terus berupaya agar kualitas radio kayu buatannya tetap bisa bertahan, dan pasar tetap terbuka. Tak heran, ia selalu mendidik pegawainya dan selektif dalam memilih mitra pemasar.
Dalam bisnis, siapa yang bisa mempertahankan kualitas produk, dia yang akan terus bertahan. Prinsip ini yang menjadi pegangansinggihKartono. Setelah berhasil memasarkan radio kayu buatannya ke berbagai negara,singgihterus berusaha menjaga kualitas radio kayu Magno. Meskipun terdengar klise, pria berumur 40 tahun ini sudah mengalaminya sendiri. "Ini penting untuk menjaga pasar tetap terbuka," ujarnya.
Tengok saja, setelah berhasil memasarkan Magno di Jepang, Inggris, Prancis, dan negara-negara Skandinavia, radio kayu buatansinggihakhirnya bisa menembus pasar Amerika Serikat dan Kanada. Radio kayu buatansinggihsudah laku masing-masing 1.000 unit di kedua negara ini. Tapi, dia tetap berusaha menjaga kualitas Magno. Dia menanamkan prinsip itu ke seluruh karyawannya. "Sekecil apapun pekerjaan karyawan, mereka tetap harus menjaga kualitas," ujarnya.
Apalagi, Magno sudah mendapat pesaing baru, yakni radio kayu buatan China. Singgih mengajarkan kepada 32 karyawannya di Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah, agar konsisten menjaga standar radio kayu. Dia pun mendidik calon karyawan yang mulai dari nol, yakni yang sama sekali tidak memiliki latar belakang pengalaman di bidang seni kerajinan kayu, sampai benar-benar mahir memproduksi radio. Sampai sekarang,singgihsetiap pagi mengumpulkan karyawannya untuk berdiskusi tentang kualitas produk. Itu ia lakukan semata-mata agar kualitas Magno tetap terjaga.
Dia selalu menanamkan bahwa dalam seni, semua orang memiliki skill dan bakat. "Tapi, yang paling penting adalah kedisiplinan. Jangan karena barangnya sudah laku, lalu membuatnya jadi asal-asalan," ujarnya, membuka resep bertahan di bisnis ini. Sampai saat ini, dengan bantuan istrinya,singgihtetap berupaya agar pasar radio kayu Magno semakin luas. Kesuksesan melebarkan sayap ke berbagai negara pun tak membuatsinggihserakah. Salah satunya, dia tidak sembarang mencari mitra pemasaran di luar negeri. Jika si pembeli hanya berorientasi pada penjualan, dia akan menolak memasok radio kayu.
"Ini adalah produk seni. Jadi harus orang yang benar-benar mengerti produk saya dulu, baru saya memasok kepada mereka," ujarnya. Baginya, radio kayu buatannya harus jatuh ke tangan pembeli yang bisa menghargai seni. Maka, para calon mitranya harus tetap memenuhi persyaratan yang dia ajukan. Berbagai persyaratan itu merupakan harga mati. Alhasil acap terjadi, para pelamar yang tertarik memasarkan Magno, harus gigit jari karena tak bisa memenuhi syarat dari Singgih.
Bagi Singgih, keberhasilannya selama ini justru merupakan buah kegigihannya mempertahankan idealisme seni, bukan semata-mata mengejar untung. Prinsip itu ia pegang sama seperti sewaktu pertama kali menemukan konsep radio kayu sebagai proyek tugas akhir di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung Tentu, banyak baiknya pengusaha kecil di dalam negeri meniru idealisme alasinggihini, terutama ketika hendak melebarkan sayap bisnis ke luar negeri. (Selesai) (KONTAN 04-06 september 2008 lamgiat siringoringo)
Minggu, 07 September 2008
Phaerly Musadi, Pebisnis Jiwa Underground
Phaerly Musadi, Raja Kaos Distro Pemuja Underground (1)
Setiap orang bisa menjadi cahaya bagi kehidupan orang lain. Begitulah, masa lalu yang buruk mendorong Phaerly Mauiec Musadi menjadi orang yang peduli dan pebisnis tangguh. Dia mendirikan bisnis pembuatan baju dan yayasan pemerhati anak muda. Bersama komunitas underground asal Bandung, Pei membangun tujuan hidupnya yakni membantu orang lain berkarya.
SIAPA yang tidak mengenal dunia musik underground? Komunitas musik underground identik dengan kekerasan, narkoba, hingga seks bebas. Namun, di tangan seorang penggemar musik underground sepertiphaerlyMauiec Musadi, wajah komunitas underground menjadi berbeda. Pei, begitu dia biasa disapa, tetap setia menikmati aliran underground. Kecintaan pada musik underground mendorong Pei memberdayakan komunitas musik keras itu. Ia menggelar berbagai kegiatan yang bernilai ekonomi dan sosial guna menyingkirkan cap buruk komunitas underground. Bersama dengan komunitas underground di Bandung, Jawa Barat, Pei menjalankan usaha sablon dan konveksi baju. Lewat bisnis bernama Distribute Merchandising itu, Pei mampu memberikan kegiatan yang positif bagi anak-anak underground di daerahnya. Kini, usahanya itu semakin berkibar. Dalam sehari, dia bisa memproduksi baju dan kaos berkisar 400 potong hingga 800 potong. Konveksi karya komunitas underground itu banyak tersebar di distribution outlet (distro) terkenal di sekitar Bandung. Baju buatan mereka juga banyak menghiasi komunitas seperti Harley Owner Motor Indonesia atau komunitas band-band besar di Bandung. Bahkan, Pei pernah mendapatkan pesanan baju dari luar negeri, seperti dari Grand Prix Formula Satu (F1) Sepang, Malaysia, hingga kostum latihan tim sepakbola Bahrain. "Nama kami lumayan terkenal di kalangan pembuat baju di Bandung," ujarnya, bangga. Pei mengawali usaha ini dari Yayasan Adikaka, sebuah yayasan yang didirikannya bersama beberapa temannya pada 1999. Yayasan itu bertujuan membantu anggota komunitas underground. "Termasuk, menjembatani hubungan orang tua dengan anaknya," ujar Pei. Dia melihat, keberadaan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli pada anak muda belum tentu menggunakan pendekatan yang tepat. "Kita harus tahu latar belakang dan watak anak muda. Karakter anak punk, anak reggae, atau anak jalanan berbeda," tandasnya. Sekarang, Pei mampu menjalankan yayasan dan bisnis distronya dengan baik. Keuntungan dari usaha itu dia pakai untuk membuat arena bermain mungil sederhana di depan kantornya. Soalnya, dia prihatin dengan minimnya lahan bermain anak-anak, terutama di pemukiman padat penduduk seperti tempat tinggalnya sekarang. Semua itu Pei lakukan demi kebaikan anak-anak lain. "Saya tidak ingin mereka mengalami masa lalu seperti saya," ujar pria berusia 32 tahun itu. Pei membeberkan kisahnya, bahwa dia berasal dari keluarga berantakan. Dia sering mengalami tindak kekerasan dari ayahnya. Maka, kini dia bertekad membantu anak lain menatap masa depan yang lebih cerah. (Bersambung)
Phaerly Musadi, Raja Kaos Distro Pemuja Underground (2)
Mengambil jalan underground adalah pilihan hidup seorang Phaerly Mauiec Musadi. Yaitu dengan tidak mau menggantungkan hidupnya dengan bekerja pada satu perusahaan. Dengan motto hidupnya yaitu “Do It Your Self”, Pei begitu ia biasa disapa menjalankan usaha sablon dan konveksi baju. Lewat bisnis yang bernama Distribute Merchandising.
Tetapi untuk mendapatkan kesuksesan bukanlah jalan yang mudah untuk dicapai oleh seorang Pei. Dia harus jatuh bangun untuk membangun bisnisnya itu. Dimulai pada tahun 2001, dia membangun bisnisnya itu dengan modal Rp 5 juta dari pinjaman saudaranya. Modal itupun tidak sepenuhnya dipakai karena harus membayar uang kuliahnya di Bandung. “Saat itu saya juga sudah menikah, dan harus memulai hidup dengan duit sebesar itu,” kenangnya.
Alhasil, dia pun memulai bisnisnya itu dengan memproduksi baju-baju untuk dipasarkan sebanyak 2 lusin saja. Itupun dia hanya desain gambarnya saja, karena dia harus mengerjakannya ke tukang sablon. “Saya pasarkan sendiri ke komunitas-komunitas,” ujarnya.
Perlahan-lahan, karena memang dekat dengan kalangan musik Bandung yang suka dengan desain bajunya, Pei berhasil meningkatkan produksinya itu. “Meningkat jadi 6 lusin, saya pasarkan ke distro,” ujarnya. Tidak mau merasa jumawa, Pei mulai melirik produksi baju-baju eksport yang punya kualitas lebih bagus. Dia pun menginginkan agar kualitas bajunya itu bisa sama. Tapi sayangnya untuk bisa menghasilkan baju eksport itu, dia harus memiliki mesin plastisol yang harganya sangat mahal.
“Harganya Rp 70 sampai dengan Rp 100 juta,” ujarnya. Dia tidak mungkin membeli mesin itu, tetapi dia kembali teringat dengan motto hidupnya “Do It Your Self”. “Saya banyak meriset dan bertanya dengan forum tukang cetak baju di luar negri,” ujarnya. Dia pun mulai merakit desain mesin yang bisa menghasilkan baju berkualitas sama. Akhirnya pada tahun 2004, dia berhasil menciptakan mesin sendiri.
Yang membuat namanya semakin berkibar di dunia sablon dan cetak baju. Order pun terus menghampiri Pei. Distro-distro di Bandung semakin senang dengan produksi baju distribute merchandise ini. Bukan hanya itu dia juga berhasil menembus pasar internasional. Baju buatannya pun terbang ke luar negeri, seperti dari Grand Prix Formula Satu (F1) Sepang, Malaysia, hingga kostum latihan tim sepakbola Bahrain.
Hasil keuntungannya ini tidak dia nikamti sendiri. Kebanyakan untungnya banyak mampir ke yayasan Adikaka, sebuah yayasan yang didirikannya bersama beberapa temannya pada 1999. Yayasan itu bertujuan membantu anggota komunitas underground. Program demi program dijalankannya, termasuk dengan mendirikan taman bermain buat anak kecil di sekitar rumahnya.
Phaerly Musadi, Raja Kaos Distro (3-selesai)
Pengalaman masa kecil sebagai korban kekerasan dalam keluarga membuat Phaerly Mauiec Musadi tergerak membantu sesama agar nasib serupa tak menimpa orang lain. Inilah yang mendorongnya membangun bisnis, yang sebagian keuntungannya dia pakai membiayai tujuan mulianya itu. Kini, usaha dan kegiatan sosialnya itu sama-sama sukses.Pengantar: Introduction: Body: Di balik keberhasilan sekarang ini, ternyataphaerlyMauiec Musadi atau biasa disapa Pei punya pengalaman masa kecil yang pahit. Ia sering mendapat pukulan dan kekerasan dari ayahnya. Ia ingin pengalaman itu menimpa orang lain. Pei mengaku, sejak ia kecil, ayahnya menerapkan aturan ketat. Pria berumur 32 tahun ini bercerita, begitu bel pulang sekolah berbunyi pada pukul 12.00, Pei wajib sudah sampai rumah pada pukul 12.10. Sang ayah akan selalu mengecek dengan menelepon. Pei harus mengangkat telepon maksimal setelah mendengar dering telepon dua kali. Kalau tidak, "Saya akan dimarahi habis-habisan," kenang Pei. Meski asli orang Indonesia, Pei lahir dan menghabiskan masa kecil di Jerman. Saat itu, ayahnya mendapat pekerjaan di sana. Saking keras sang ayah, ia kerap mendapatkan pukulan dan diusir saat kemarahan ayahnya memuncak. Begitu beranjak dewasa dan lepas dari sang ayah, Pei menyadari kesalahan ayahnya. "Segala macam kekerasan tidak boleh terjadi pada saya, adik saya, atau siapa pun," ujarnya. Tekad itu ia buktikan dengan mendirikan Yayasan Adikaka sejak tahun 1999. Yayasan ini menjadi jembatan memahami masalah anak muda. Tetapi perjalanan mendirikan Yayasan Adikaka juga tidak mulus. Program yang ia susun banyak yang tidak berjalan karena terbentur masalah dana. "Saya baru tahu, kalau idealis itu ternyata juga butuh dana," kekehnya sedikit menertawakan idenya saat itu. Meski begitu, dengan latar belakang dunia underground yang berprinsip do it your self, Pei tak mau mengemis dana kepada perusahaan atau pendana lain. "Aneh saja, kalau ada acara Yayasan Adikaka, tapi penuh dengan spanduk atau iklan beberapa produk," ujarnya. Maka, Pei membuka distribute merchandising sebagai bagian dari bisnis buat menyokong hidup yayasannya. Agar lebih banyak fokus ke bisnis distribute merchandising, Pei menidurkan sementara aktivitas Yayasan Adikaka. Berkat kegigihannya, usaha Pei semakin sukses. Bukan hanya berhasil memasarkan baju buatannya ke berbagai distro, produk desainnya juga banyak dipesan komunitas dan perusahaan di dalam negeri dan perusahaan di luar negeri. Kini, dalam sehari, ia bisa memproduksi baju dan kaos berkisar antara 400 potong hingga 800 potong. Sukses ini membuat Pei kembali membangunkan yayasannya, pada 2005. Yayasannya mulai menggalang kampanye agar orang tua bersedia memahami masalah anak-anak. Ia ingin menyampaikan pesan bahwa orang tua harus meluangkan waktu bermain bersama anaknya, minimal 15 menit sehari. "Orang tua jangan hanya menuntut anak agar mengerti kesibukan orang tua. Tapi orang tua juga harus mengerti kebutuhan anak. Seperti, mau nonton Sponge Bob bersama atau pergi nonton konser musik sekeluarga," ujarnya. Dari penghasilan bisnis baju distro, Pei juga membangun arena bermain mungil di depan kantornya di Bandung. Ia merasa prihatin dengan semakin minimnya lahan bermain untuk anak-anak. Apalagi di pemukiman padat penduduk seperti tempat tinggalnya di Baranang Siang, Bandung, Jawa Barat. Kini, ada lebih dari 30 anak yang sehari-hari menghabiskan waktunya di arena yang dinamai The Neverland Playground tersebut. Melalui arena bermain ini, Pei mengajarkan anak-anak mematuhi aturan. Yakni, menjaga kebersihan, terbiasa ikut antrean, dan tidak boleh omong kasar. Jika melanggar, anak-anak akan mendapat hukuman mulai dari push-up hingga tidak boleh datang bermain lagi. Jika berprestasi, anak-anak akan mendapat hadiah seperti stiker atau kaos. Semuanya ini dilakukan dengan tujuan tulus. "Saya ingin masa lalu saya tidak terulang lagi," ungkap Pei. Sembari menjalankan yayasannya, Pei juga ingin terus menekuni bisnis bajunya lewat distribute merchandising, sembari beraktivitas di Yayasan Adikaka. Kedua bidang ini memang memiliki tujuan berbeda. "Satu nirlaba dan satu lagi mencari laba. Tapi, keduanya saling mendukung," ujar Pei, diplomatis. (Selesai) (KONTAN 28-30 agustus 2008 lamgiat siringoringo)
Setiap orang bisa menjadi cahaya bagi kehidupan orang lain. Begitulah, masa lalu yang buruk mendorong Phaerly Mauiec Musadi menjadi orang yang peduli dan pebisnis tangguh. Dia mendirikan bisnis pembuatan baju dan yayasan pemerhati anak muda. Bersama komunitas underground asal Bandung, Pei membangun tujuan hidupnya yakni membantu orang lain berkarya.
SIAPA yang tidak mengenal dunia musik underground? Komunitas musik underground identik dengan kekerasan, narkoba, hingga seks bebas. Namun, di tangan seorang penggemar musik underground sepertiphaerlyMauiec Musadi, wajah komunitas underground menjadi berbeda. Pei, begitu dia biasa disapa, tetap setia menikmati aliran underground. Kecintaan pada musik underground mendorong Pei memberdayakan komunitas musik keras itu. Ia menggelar berbagai kegiatan yang bernilai ekonomi dan sosial guna menyingkirkan cap buruk komunitas underground. Bersama dengan komunitas underground di Bandung, Jawa Barat, Pei menjalankan usaha sablon dan konveksi baju. Lewat bisnis bernama Distribute Merchandising itu, Pei mampu memberikan kegiatan yang positif bagi anak-anak underground di daerahnya. Kini, usahanya itu semakin berkibar. Dalam sehari, dia bisa memproduksi baju dan kaos berkisar 400 potong hingga 800 potong. Konveksi karya komunitas underground itu banyak tersebar di distribution outlet (distro) terkenal di sekitar Bandung. Baju buatan mereka juga banyak menghiasi komunitas seperti Harley Owner Motor Indonesia atau komunitas band-band besar di Bandung. Bahkan, Pei pernah mendapatkan pesanan baju dari luar negeri, seperti dari Grand Prix Formula Satu (F1) Sepang, Malaysia, hingga kostum latihan tim sepakbola Bahrain. "Nama kami lumayan terkenal di kalangan pembuat baju di Bandung," ujarnya, bangga. Pei mengawali usaha ini dari Yayasan Adikaka, sebuah yayasan yang didirikannya bersama beberapa temannya pada 1999. Yayasan itu bertujuan membantu anggota komunitas underground. "Termasuk, menjembatani hubungan orang tua dengan anaknya," ujar Pei. Dia melihat, keberadaan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli pada anak muda belum tentu menggunakan pendekatan yang tepat. "Kita harus tahu latar belakang dan watak anak muda. Karakter anak punk, anak reggae, atau anak jalanan berbeda," tandasnya. Sekarang, Pei mampu menjalankan yayasan dan bisnis distronya dengan baik. Keuntungan dari usaha itu dia pakai untuk membuat arena bermain mungil sederhana di depan kantornya. Soalnya, dia prihatin dengan minimnya lahan bermain anak-anak, terutama di pemukiman padat penduduk seperti tempat tinggalnya sekarang. Semua itu Pei lakukan demi kebaikan anak-anak lain. "Saya tidak ingin mereka mengalami masa lalu seperti saya," ujar pria berusia 32 tahun itu. Pei membeberkan kisahnya, bahwa dia berasal dari keluarga berantakan. Dia sering mengalami tindak kekerasan dari ayahnya. Maka, kini dia bertekad membantu anak lain menatap masa depan yang lebih cerah. (Bersambung)
Phaerly Musadi, Raja Kaos Distro Pemuja Underground (2)
Mengambil jalan underground adalah pilihan hidup seorang Phaerly Mauiec Musadi. Yaitu dengan tidak mau menggantungkan hidupnya dengan bekerja pada satu perusahaan. Dengan motto hidupnya yaitu “Do It Your Self”, Pei begitu ia biasa disapa menjalankan usaha sablon dan konveksi baju. Lewat bisnis yang bernama Distribute Merchandising.
Tetapi untuk mendapatkan kesuksesan bukanlah jalan yang mudah untuk dicapai oleh seorang Pei. Dia harus jatuh bangun untuk membangun bisnisnya itu. Dimulai pada tahun 2001, dia membangun bisnisnya itu dengan modal Rp 5 juta dari pinjaman saudaranya. Modal itupun tidak sepenuhnya dipakai karena harus membayar uang kuliahnya di Bandung. “Saat itu saya juga sudah menikah, dan harus memulai hidup dengan duit sebesar itu,” kenangnya.
Alhasil, dia pun memulai bisnisnya itu dengan memproduksi baju-baju untuk dipasarkan sebanyak 2 lusin saja. Itupun dia hanya desain gambarnya saja, karena dia harus mengerjakannya ke tukang sablon. “Saya pasarkan sendiri ke komunitas-komunitas,” ujarnya.
Perlahan-lahan, karena memang dekat dengan kalangan musik Bandung yang suka dengan desain bajunya, Pei berhasil meningkatkan produksinya itu. “Meningkat jadi 6 lusin, saya pasarkan ke distro,” ujarnya. Tidak mau merasa jumawa, Pei mulai melirik produksi baju-baju eksport yang punya kualitas lebih bagus. Dia pun menginginkan agar kualitas bajunya itu bisa sama. Tapi sayangnya untuk bisa menghasilkan baju eksport itu, dia harus memiliki mesin plastisol yang harganya sangat mahal.
“Harganya Rp 70 sampai dengan Rp 100 juta,” ujarnya. Dia tidak mungkin membeli mesin itu, tetapi dia kembali teringat dengan motto hidupnya “Do It Your Self”. “Saya banyak meriset dan bertanya dengan forum tukang cetak baju di luar negri,” ujarnya. Dia pun mulai merakit desain mesin yang bisa menghasilkan baju berkualitas sama. Akhirnya pada tahun 2004, dia berhasil menciptakan mesin sendiri.
Yang membuat namanya semakin berkibar di dunia sablon dan cetak baju. Order pun terus menghampiri Pei. Distro-distro di Bandung semakin senang dengan produksi baju distribute merchandise ini. Bukan hanya itu dia juga berhasil menembus pasar internasional. Baju buatannya pun terbang ke luar negeri, seperti dari Grand Prix Formula Satu (F1) Sepang, Malaysia, hingga kostum latihan tim sepakbola Bahrain.
Hasil keuntungannya ini tidak dia nikamti sendiri. Kebanyakan untungnya banyak mampir ke yayasan Adikaka, sebuah yayasan yang didirikannya bersama beberapa temannya pada 1999. Yayasan itu bertujuan membantu anggota komunitas underground. Program demi program dijalankannya, termasuk dengan mendirikan taman bermain buat anak kecil di sekitar rumahnya.
Phaerly Musadi, Raja Kaos Distro (3-selesai)
Pengalaman masa kecil sebagai korban kekerasan dalam keluarga membuat Phaerly Mauiec Musadi tergerak membantu sesama agar nasib serupa tak menimpa orang lain. Inilah yang mendorongnya membangun bisnis, yang sebagian keuntungannya dia pakai membiayai tujuan mulianya itu. Kini, usaha dan kegiatan sosialnya itu sama-sama sukses.Pengantar: Introduction: Body: Di balik keberhasilan sekarang ini, ternyataphaerlyMauiec Musadi atau biasa disapa Pei punya pengalaman masa kecil yang pahit. Ia sering mendapat pukulan dan kekerasan dari ayahnya. Ia ingin pengalaman itu menimpa orang lain. Pei mengaku, sejak ia kecil, ayahnya menerapkan aturan ketat. Pria berumur 32 tahun ini bercerita, begitu bel pulang sekolah berbunyi pada pukul 12.00, Pei wajib sudah sampai rumah pada pukul 12.10. Sang ayah akan selalu mengecek dengan menelepon. Pei harus mengangkat telepon maksimal setelah mendengar dering telepon dua kali. Kalau tidak, "Saya akan dimarahi habis-habisan," kenang Pei. Meski asli orang Indonesia, Pei lahir dan menghabiskan masa kecil di Jerman. Saat itu, ayahnya mendapat pekerjaan di sana. Saking keras sang ayah, ia kerap mendapatkan pukulan dan diusir saat kemarahan ayahnya memuncak. Begitu beranjak dewasa dan lepas dari sang ayah, Pei menyadari kesalahan ayahnya. "Segala macam kekerasan tidak boleh terjadi pada saya, adik saya, atau siapa pun," ujarnya. Tekad itu ia buktikan dengan mendirikan Yayasan Adikaka sejak tahun 1999. Yayasan ini menjadi jembatan memahami masalah anak muda. Tetapi perjalanan mendirikan Yayasan Adikaka juga tidak mulus. Program yang ia susun banyak yang tidak berjalan karena terbentur masalah dana. "Saya baru tahu, kalau idealis itu ternyata juga butuh dana," kekehnya sedikit menertawakan idenya saat itu. Meski begitu, dengan latar belakang dunia underground yang berprinsip do it your self, Pei tak mau mengemis dana kepada perusahaan atau pendana lain. "Aneh saja, kalau ada acara Yayasan Adikaka, tapi penuh dengan spanduk atau iklan beberapa produk," ujarnya. Maka, Pei membuka distribute merchandising sebagai bagian dari bisnis buat menyokong hidup yayasannya. Agar lebih banyak fokus ke bisnis distribute merchandising, Pei menidurkan sementara aktivitas Yayasan Adikaka. Berkat kegigihannya, usaha Pei semakin sukses. Bukan hanya berhasil memasarkan baju buatannya ke berbagai distro, produk desainnya juga banyak dipesan komunitas dan perusahaan di dalam negeri dan perusahaan di luar negeri. Kini, dalam sehari, ia bisa memproduksi baju dan kaos berkisar antara 400 potong hingga 800 potong. Sukses ini membuat Pei kembali membangunkan yayasannya, pada 2005. Yayasannya mulai menggalang kampanye agar orang tua bersedia memahami masalah anak-anak. Ia ingin menyampaikan pesan bahwa orang tua harus meluangkan waktu bermain bersama anaknya, minimal 15 menit sehari. "Orang tua jangan hanya menuntut anak agar mengerti kesibukan orang tua. Tapi orang tua juga harus mengerti kebutuhan anak. Seperti, mau nonton Sponge Bob bersama atau pergi nonton konser musik sekeluarga," ujarnya. Dari penghasilan bisnis baju distro, Pei juga membangun arena bermain mungil di depan kantornya di Bandung. Ia merasa prihatin dengan semakin minimnya lahan bermain untuk anak-anak. Apalagi di pemukiman padat penduduk seperti tempat tinggalnya di Baranang Siang, Bandung, Jawa Barat. Kini, ada lebih dari 30 anak yang sehari-hari menghabiskan waktunya di arena yang dinamai The Neverland Playground tersebut. Melalui arena bermain ini, Pei mengajarkan anak-anak mematuhi aturan. Yakni, menjaga kebersihan, terbiasa ikut antrean, dan tidak boleh omong kasar. Jika melanggar, anak-anak akan mendapat hukuman mulai dari push-up hingga tidak boleh datang bermain lagi. Jika berprestasi, anak-anak akan mendapat hadiah seperti stiker atau kaos. Semuanya ini dilakukan dengan tujuan tulus. "Saya ingin masa lalu saya tidak terulang lagi," ungkap Pei. Sembari menjalankan yayasannya, Pei juga ingin terus menekuni bisnis bajunya lewat distribute merchandising, sembari beraktivitas di Yayasan Adikaka. Kedua bidang ini memang memiliki tujuan berbeda. "Satu nirlaba dan satu lagi mencari laba. Tapi, keduanya saling mendukung," ujar Pei, diplomatis. (Selesai) (KONTAN 28-30 agustus 2008 lamgiat siringoringo)
Senin, 07 Juli 2008
nafsu belanja tak turun jua..
Nafsu konsumsi masyarakat Indonesia terbilang tinggi. Tengok saja, Januari-Juni tahun ini, transaksi ritel tumbuh sebanyak 20% dibandingkan tahun sebelumnya. Ini dialami mulai kelas ritel mulai dari minimarket sampai dengan hipermarket. "Mengalami pertumbuhan 20%," ujar Benjamin Mailool Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Meskipun belum menggambarkan keadaan setelah kenaikan BBM, tetapi kondisi ini menunjukkan kalau nafsu belanja masyarakat memang lah tinggi.
Agak berbeda dengan masyrakat luar Indonesia seperti Amerika Serikat (AS). Meskipun mempunyai Product Domestic Bruto (PDB) yang lebih tinggi, masyarakat di negri paman sam itu ternyata lebih kritis. Lihat saja, rencana starbucks Corp yang akan menutup sekitar 600 gerainya di AS dalam kurun waktu sembilan bulan mendatang. penjualanstarbucksCorp. di AS pun terus merosot. Direktur Keuangan starbucks Pete Bocian mengatakan penutupan gerai itu akan dilakukan merata di seluruh AS. Bocian bilang, perusahaannya terpaksa menutup sebagian gerai karena laba beberapa gerai starbucks yang lokasinya berdekatan turun 25% - 30%.
Padahal Starbucks begitu banyak penggemarnya di Amerika Serikat (AS) yang rela merogoh kocek US$ 4 hanya untuk segelas kopi. Tapi kondisi ini berbeda karena lonjakan harga bensin dan bahan pangan yang membuat konsumen AS semakin pelit. Nah, Starbucks di Indonesia berbeda jarang sekali sepi pengunjung. Bagaimana dengan anda dan saya?
Agak berbeda dengan masyrakat luar Indonesia seperti Amerika Serikat (AS). Meskipun mempunyai Product Domestic Bruto (PDB) yang lebih tinggi, masyarakat di negri paman sam itu ternyata lebih kritis. Lihat saja, rencana starbucks Corp yang akan menutup sekitar 600 gerainya di AS dalam kurun waktu sembilan bulan mendatang. penjualanstarbucksCorp. di AS pun terus merosot. Direktur Keuangan starbucks Pete Bocian mengatakan penutupan gerai itu akan dilakukan merata di seluruh AS. Bocian bilang, perusahaannya terpaksa menutup sebagian gerai karena laba beberapa gerai starbucks yang lokasinya berdekatan turun 25% - 30%.
Padahal Starbucks begitu banyak penggemarnya di Amerika Serikat (AS) yang rela merogoh kocek US$ 4 hanya untuk segelas kopi. Tapi kondisi ini berbeda karena lonjakan harga bensin dan bahan pangan yang membuat konsumen AS semakin pelit. Nah, Starbucks di Indonesia berbeda jarang sekali sepi pengunjung. Bagaimana dengan anda dan saya?
Kamis, 03 Juli 2008
Anda, Saya atau Setan
Kronis dan Ironis...hanya kata-kata ini lah yang tepat untuk menggambarkan negri Indonesia ini. Di tengah-tengah seorang ibu yang harus berdesak-desakan mengantri Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai bentuk kompensasi kenaikan BBM, di tengah pemerintah mengatakan bahwa kenaikan BBM ini adalah satu fakta yang tidak bisa dihindari, di tengah pengusaha atau masyarakat naik pitam karena listrik byar pet, di tengah himbauan pemerintah untuk masyarakat berhemat listrik dan BBM.
Ada temuan Indonesian Corruption Watch (ICW) yang tidak mengenakkan. Temuannya adalah penyimpangan duit hasil penerimaan migas selama kurun 2000-2007 mencapai senilai Rp 194 triliun. Bukan hanya itu saja, temuan ICW ini sebenarnya diperkuat juga dengan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) 2005-2007. Sebab, BPK juga menemukan penyimpangan yang sama., temuan BPK mencatat nilai penyimpangan itu mencapai Rp 120,3 triliun. Bayangkan kalau duit sebanyak ini, tidak jelas rimbanya. Lalu kalau sudah begini, kepada siapa lagi kita percayakan negri ini. Mungkin kita harus pindah ke negara lain, atau malah kita acuhkan kondisi ini. Siapa yang harus melawan kondisi ini. Anda, saya, atau setan....
Ada temuan Indonesian Corruption Watch (ICW) yang tidak mengenakkan. Temuannya adalah penyimpangan duit hasil penerimaan migas selama kurun 2000-2007 mencapai senilai Rp 194 triliun. Bukan hanya itu saja, temuan ICW ini sebenarnya diperkuat juga dengan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) 2005-2007. Sebab, BPK juga menemukan penyimpangan yang sama., temuan BPK mencatat nilai penyimpangan itu mencapai Rp 120,3 triliun. Bayangkan kalau duit sebanyak ini, tidak jelas rimbanya. Lalu kalau sudah begini, kepada siapa lagi kita percayakan negri ini. Mungkin kita harus pindah ke negara lain, atau malah kita acuhkan kondisi ini. Siapa yang harus melawan kondisi ini. Anda, saya, atau setan....
Tidak akan ada lagi garansi toko atau distributor
Apakah Anda pernah membeli barang elektronik atau Handphone yang hanya disertai garansi toko? Nah, di masa depan, garansi toko seperti itu akan sulit dijumpai. Pasalnya, pemerintah berencana akan memperketat pengawasan peredaran produk elektronik. Caranya, dengan memperluas jenis produk yang wajib memenuhi standar kualitas serta menegaskan tanggungjawab produsen atau importir resmi.
Ketentuan ini bakal masuk dalam revisi Surat Keputusan (SK) Mentri Perindustrian dan Perdagangan (Memperindag) No. 547 Tahun 2002 tentang Penggunaan Buku Petunjuk Penggunaan Manual dan Kartu Garansi Berbahasa Indonesia. Salah satu isi beleid ini adalah ketentuan bahwa yang bisa memiliki nomor pendaftaran barang (NPB) hanya importir atau produsen elektronik dalam negeri. “Nomor pendaftaran itu hanya diberikan kepada produsen elektronik. Bukan kepada distributor atau toko,” ujar Makbullah Pasinringi, Direktur Perlindungan Konsumen, Direktorat, Perdagangan Dalam Negeri Departemen Perdagangan (Depdag) .
Distributor tidak bisa meminta NPB kepada Depdag. Kepala Sub Direktorat Pengawasan Barang Beredar dan Jasa, Depdag, Feri Anggrijono mengatakan, di lapangan, pihaknya banyak menemukan produk-produk yang NPB-nya dimiliki oleh toko atau distributor. “Makanya, sekarang banyak produk yang garansinya itu adalah garansi toko atau distributor,” ujarnya. Padahal, itu hanyalah dalih pedagang memasarkan produk selundupan. Jika aturan ini diterapkan, tidak ada lagi garansi toko atau distributor. Semua garansi langsung dikeluarkan produsen atau importir barang.
Cuma, terkadang para produsen sengaja menyerahkan garansi barang pada toko atau distributor lantaran tidak mau bertanggungjawab. “Kami atur ini untuk melindungi konsumen,” ujar Makbullah. Nantinya, jika modus itu masih ditemukan di lapangan, pemerintah akan memberi sanksi kepada produsen, distributor atau toko yang masih membandel. “Sanksinya, kami bisa menarik barang mereka dari peredaran,” tandas Feri. Selain itu, revisi beleid ini juga mengatur perluasan produk elektronik dan teknologi informasi yang mesti tunduk pada ketentuan soal standar kualitas. “Kalau peraturan lama cuma berlaku untuk 17 produk, kini akan ada sekitar 41 produk yang wajib mengikuti aturan,” ujar Makbullah. Bahkan, Makbullah melihat hampir semua produk elektronik tercantum dalam aturan ini. Sebut saja telepon seluler, radio kaset, alat perekam gambar dan suara termasuk VCD, DVD, VCR, player, televisi, lemari es, kompor gas, microwave oven, printer, dan monitor komputer
Ketentuan ini bakal masuk dalam revisi Surat Keputusan (SK) Mentri Perindustrian dan Perdagangan (Memperindag) No. 547 Tahun 2002 tentang Penggunaan Buku Petunjuk Penggunaan Manual dan Kartu Garansi Berbahasa Indonesia. Salah satu isi beleid ini adalah ketentuan bahwa yang bisa memiliki nomor pendaftaran barang (NPB) hanya importir atau produsen elektronik dalam negeri. “Nomor pendaftaran itu hanya diberikan kepada produsen elektronik. Bukan kepada distributor atau toko,” ujar Makbullah Pasinringi, Direktur Perlindungan Konsumen, Direktorat, Perdagangan Dalam Negeri Departemen Perdagangan (Depdag) .
Distributor tidak bisa meminta NPB kepada Depdag. Kepala Sub Direktorat Pengawasan Barang Beredar dan Jasa, Depdag, Feri Anggrijono mengatakan, di lapangan, pihaknya banyak menemukan produk-produk yang NPB-nya dimiliki oleh toko atau distributor. “Makanya, sekarang banyak produk yang garansinya itu adalah garansi toko atau distributor,” ujarnya. Padahal, itu hanyalah dalih pedagang memasarkan produk selundupan. Jika aturan ini diterapkan, tidak ada lagi garansi toko atau distributor. Semua garansi langsung dikeluarkan produsen atau importir barang.
Cuma, terkadang para produsen sengaja menyerahkan garansi barang pada toko atau distributor lantaran tidak mau bertanggungjawab. “Kami atur ini untuk melindungi konsumen,” ujar Makbullah. Nantinya, jika modus itu masih ditemukan di lapangan, pemerintah akan memberi sanksi kepada produsen, distributor atau toko yang masih membandel. “Sanksinya, kami bisa menarik barang mereka dari peredaran,” tandas Feri. Selain itu, revisi beleid ini juga mengatur perluasan produk elektronik dan teknologi informasi yang mesti tunduk pada ketentuan soal standar kualitas. “Kalau peraturan lama cuma berlaku untuk 17 produk, kini akan ada sekitar 41 produk yang wajib mengikuti aturan,” ujar Makbullah. Bahkan, Makbullah melihat hampir semua produk elektronik tercantum dalam aturan ini. Sebut saja telepon seluler, radio kaset, alat perekam gambar dan suara termasuk VCD, DVD, VCR, player, televisi, lemari es, kompor gas, microwave oven, printer, dan monitor komputer
Senin, 30 Juni 2008
larangan impor udang diperpanjang
.Pembudidaya udang dalam negri bersorak gembira karena
pemerintah memutuskan untuk memperpanjang larangan impor udang. Lewat
Peraturan Bersama Menteri Perdagangan dan Menteri Kelautan dan
Perikanan Nomor 23/M-DAG/PER/6/2008 dan Nomor PB.01/MEN/2008 tanggal 27 Juni 2008 tentang larangan sementara impor udang spesies tertentu ke wilayah Indonesia, Pemerintah memutuskan larangan impor udang vannamei berupa beku dan segar termasuk dalam bentuk olahan berlaku selama enam bulan ke depan.
Ketua Umum Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN) Sidik Moeslim mengatakan bahwa diperpanjang larangan impor udang ini membuat pembudidaya udang bisa mengelus dada karena tidak harus bersaing dengan udang luar negri. "Pembudidaya masih syok akibat kenaikan BBM kemarin," ujarnya. Dia mengatakan bahwa dengan tetap dilarangnya impor udang ini membuat pembudidaya udang bisa menggenjot produksinya di tahun ini.
Lebih lanjut lagi Sidik menjelaskan bahwa sejak diberlakukannya peraturan ini selama 3 tahun sejak tahun 2005, budidaya udang masih belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Di tahun 2005, produksi udang nasional hanya bisa menghasilkan 300 ribu ton udang, sementara
di tahun 2006 hanya menghasilkan 320 ribu ton udang saja. Tidak jauh berbeda, tahun lalu pembudidaya udang hanya bisa menghasilkan 330 ribu ton udang saja. "Tidak mencapai target pemerintah sebanyak 420 ribu ton udang," ujarnya. Makanya dia masih berharap dengan adanya kebijakan ini, pembudidaya udang diharapkan bisa mencapai target
nasional sebanyak 475 ribu ton udang.
Selain untuk menggenjot produksi nasional, Direktur Pemasaran Luar Negri Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Saut Hutagalung mengatakan bahwa budidaya udang di dalam negri bisa juga mengatasi penyakit yang menyerang tubuh udang. "Larangan impor ini juga untuk mencegahnya beredar penyakit udang juga," ujarnya. Dia mengatakan, negara yang selama ini menjadi eksportir udang ke dalam negri adalah China, India, Vietnam dan Thailand. Sepanjang tahun lalu, impor udang ke Indonesia itu sebanyak 5000 ton udang. "Ekspor udang kita sebanyak 160.000 ton dari total produksi sebanyak 330 ribu ton," ujar Saut.
Lebih lanjut, ia mengatakan, terhadap udang jenis lain yang tidak dilarang impornya, akan dilakukan pengawasan yang lebih ketat terutama di pelabuhan masuk guna memenuhi standar mutu produk yang aman dikonsumsi melalui sertifikat kesehatan.
Selain itu, menurut dia, produk juga harus dilengkapi dengan surat keterangan asal (country of origin certificate/COO) atau SKA). Sesuai dengan ketentuan ketertelusuran (traceability) dalam perdagangan produk perikanan yang diterapkan semakin luas untuk memasuki pasar
Amerika Serikat dan Uni Eropa.
pemerintah memutuskan untuk memperpanjang larangan impor udang. Lewat
Peraturan Bersama Menteri Perdagangan dan Menteri Kelautan dan
Perikanan Nomor 23/M-DAG/PER/6/2008 dan Nomor PB.01/MEN/2008 tanggal 27 Juni 2008 tentang larangan sementara impor udang spesies tertentu ke wilayah Indonesia, Pemerintah memutuskan larangan impor udang vannamei berupa beku dan segar termasuk dalam bentuk olahan berlaku selama enam bulan ke depan.
Ketua Umum Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN) Sidik Moeslim mengatakan bahwa diperpanjang larangan impor udang ini membuat pembudidaya udang bisa mengelus dada karena tidak harus bersaing dengan udang luar negri. "Pembudidaya masih syok akibat kenaikan BBM kemarin," ujarnya. Dia mengatakan bahwa dengan tetap dilarangnya impor udang ini membuat pembudidaya udang bisa menggenjot produksinya di tahun ini.
Lebih lanjut lagi Sidik menjelaskan bahwa sejak diberlakukannya peraturan ini selama 3 tahun sejak tahun 2005, budidaya udang masih belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Di tahun 2005, produksi udang nasional hanya bisa menghasilkan 300 ribu ton udang, sementara
di tahun 2006 hanya menghasilkan 320 ribu ton udang saja. Tidak jauh berbeda, tahun lalu pembudidaya udang hanya bisa menghasilkan 330 ribu ton udang saja. "Tidak mencapai target pemerintah sebanyak 420 ribu ton udang," ujarnya. Makanya dia masih berharap dengan adanya kebijakan ini, pembudidaya udang diharapkan bisa mencapai target
nasional sebanyak 475 ribu ton udang.
Selain untuk menggenjot produksi nasional, Direktur Pemasaran Luar Negri Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Saut Hutagalung mengatakan bahwa budidaya udang di dalam negri bisa juga mengatasi penyakit yang menyerang tubuh udang. "Larangan impor ini juga untuk mencegahnya beredar penyakit udang juga," ujarnya. Dia mengatakan, negara yang selama ini menjadi eksportir udang ke dalam negri adalah China, India, Vietnam dan Thailand. Sepanjang tahun lalu, impor udang ke Indonesia itu sebanyak 5000 ton udang. "Ekspor udang kita sebanyak 160.000 ton dari total produksi sebanyak 330 ribu ton," ujar Saut.
Lebih lanjut, ia mengatakan, terhadap udang jenis lain yang tidak dilarang impornya, akan dilakukan pengawasan yang lebih ketat terutama di pelabuhan masuk guna memenuhi standar mutu produk yang aman dikonsumsi melalui sertifikat kesehatan.
Selain itu, menurut dia, produk juga harus dilengkapi dengan surat keterangan asal (country of origin certificate/COO) atau SKA). Sesuai dengan ketentuan ketertelusuran (traceability) dalam perdagangan produk perikanan yang diterapkan semakin luas untuk memasuki pasar
Amerika Serikat dan Uni Eropa.
tim antidumping australia sambangi dalam negri
Industri kertas toilet dalam negri sepertinya harus bersiap-siap menghadapi penyelidikan atas tuduhan dumping dari Negara Australia. Pasalnya, tim otoritas anti dumping Australia akan segera menyambangi dalam negri untuk memeriksa tuduhan itu. Direktur Pengamanan Perdagangan Departemen Perdagangan (Depdag) Martua Sihombing mengatakan bahwa tanggal 9-14 Juli nanti, tim otoritas anti dumping Australia mengkonfirmasi akan datang ke Indonesia. "Pemerintah dan asosiasi harus segera siap-siap untuk menghadapi penyelidikan
ini," ujarnya.
Dia mengatakan bahwa tim dari negri Kangguru ini datang karena tidak puas dengan surat bantahan yang sudah dikirimkan oleh Depdag pada bulan lalu. "Mereka akan memverifikasi data yang sudah kirim itu," ujarnya. Setelah dilakukan pencarian fakta dan perhitungan, Australia akan mengumumkan keputusan apakah akan dikenakan beamasuk antidumping
atau tidak. "Ini akan diumumkan dalam waktu 1-1,5 tahun ke depan," ucap Martua. Namun sebelum itu, pemerintah Australia dapat saja mengenakan bea masuk antidumping sementara (BMADS) jika melihat potensi praktek dumping Indonesia telah menggerus pasar dalam
negerinya.
Seperti diketahui, lima perusahaan dari Australia telah mengajukan petisi tuduhan tindakan dumping itu, yaitu Kimbely-Clark, SCA Hynicare, ABC Tissue Produtcs, Merino Pty. Ltd, dan Encore Packaging. Mereka menuduh tiga produsen kertas toilet Indonesia melakukan dumping
yaitu PT Lontar Papyrus, PT Pindo Deli, dan PT Univenus yang merupakan anak usaha Sinar Mas.
Sementara Sinar Mas sendiri akan menyambut baik kedatangan tim otoritas anti dumping Australia ini. "Biar mereka tahu, bahwa kita tidak menerapkan harga dumping," ujar Yan Partawijaya Direktur Sinar Mas Grup. Dia mengatakan bahwa selama ini Sinar Mas bersikap kooperatif terhadap tuduhan ini dengan menjawab kuisoner yang diminta oleh Australia. Dalam kuisoner itu, Sinar Mas sudah memberikan bukti-bukti bahwa tidak ada penerapan harga dumping.
Sinar Mas sendiri optimis dapat memenangkan tuduhan ini. "Karena kita sudah beberapa kali dituduh oleh negara lain seperti Amerika Serikat atau Korea Selatan," ujarnya. Yan juga yakin bahwa tuduhan ini tidak akan berdampak pada pasar ekspor kertas toilet ke negri Kangguru itu.
"Ekspor kita jalan terus," ujarnya.
ini," ujarnya.
Dia mengatakan bahwa tim dari negri Kangguru ini datang karena tidak puas dengan surat bantahan yang sudah dikirimkan oleh Depdag pada bulan lalu. "Mereka akan memverifikasi data yang sudah kirim itu," ujarnya. Setelah dilakukan pencarian fakta dan perhitungan, Australia akan mengumumkan keputusan apakah akan dikenakan beamasuk antidumping
atau tidak. "Ini akan diumumkan dalam waktu 1-1,5 tahun ke depan," ucap Martua. Namun sebelum itu, pemerintah Australia dapat saja mengenakan bea masuk antidumping sementara (BMADS) jika melihat potensi praktek dumping Indonesia telah menggerus pasar dalam
negerinya.
Seperti diketahui, lima perusahaan dari Australia telah mengajukan petisi tuduhan tindakan dumping itu, yaitu Kimbely-Clark, SCA Hynicare, ABC Tissue Produtcs, Merino Pty. Ltd, dan Encore Packaging. Mereka menuduh tiga produsen kertas toilet Indonesia melakukan dumping
yaitu PT Lontar Papyrus, PT Pindo Deli, dan PT Univenus yang merupakan anak usaha Sinar Mas.
Sementara Sinar Mas sendiri akan menyambut baik kedatangan tim otoritas anti dumping Australia ini. "Biar mereka tahu, bahwa kita tidak menerapkan harga dumping," ujar Yan Partawijaya Direktur Sinar Mas Grup. Dia mengatakan bahwa selama ini Sinar Mas bersikap kooperatif terhadap tuduhan ini dengan menjawab kuisoner yang diminta oleh Australia. Dalam kuisoner itu, Sinar Mas sudah memberikan bukti-bukti bahwa tidak ada penerapan harga dumping.
Sinar Mas sendiri optimis dapat memenangkan tuduhan ini. "Karena kita sudah beberapa kali dituduh oleh negara lain seperti Amerika Serikat atau Korea Selatan," ujarnya. Yan juga yakin bahwa tuduhan ini tidak akan berdampak pada pasar ekspor kertas toilet ke negri Kangguru itu.
"Ekspor kita jalan terus," ujarnya.
Langganan:
Postingan (Atom)