Minggu, 07 September 2008

Phaerly Musadi, Pebisnis Jiwa Underground

Phaerly Musadi, Raja Kaos Distro Pemuja Underground (1)
Setiap orang bisa menjadi cahaya bagi kehidupan orang lain. Begitulah, masa lalu yang buruk mendorong Phaerly Mauiec Musadi menjadi orang yang peduli dan pebisnis tangguh. Dia mendirikan bisnis pembuatan baju dan yayasan pemerhati anak muda. Bersama komunitas underground asal Bandung, Pei membangun tujuan hidupnya yakni membantu orang lain berkarya.

SIAPA yang tidak mengenal dunia musik underground? Komunitas musik underground identik dengan kekerasan, narkoba, hingga seks bebas. Namun, di tangan seorang penggemar musik underground sepertiphaerlyMauiec Musadi, wajah komunitas underground menjadi berbeda. Pei, begitu dia biasa disapa, tetap setia menikmati aliran underground. Kecintaan pada musik underground mendorong Pei memberdayakan komunitas musik keras itu. Ia menggelar berbagai kegiatan yang bernilai ekonomi dan sosial guna menyingkirkan cap buruk komunitas underground. Bersama dengan komunitas underground di Bandung, Jawa Barat, Pei menjalankan usaha sablon dan konveksi baju. Lewat bisnis bernama Distribute Merchandising itu, Pei mampu memberikan kegiatan yang positif bagi anak-anak underground di daerahnya. Kini, usahanya itu semakin berkibar. Dalam sehari, dia bisa memproduksi baju dan kaos berkisar 400 potong hingga 800 potong. Konveksi karya komunitas underground itu banyak tersebar di distribution outlet (distro) terkenal di sekitar Bandung. Baju buatan mereka juga banyak menghiasi komunitas seperti Harley Owner Motor Indonesia atau komunitas band-band besar di Bandung. Bahkan, Pei pernah mendapatkan pesanan baju dari luar negeri, seperti dari Grand Prix Formula Satu (F1) Sepang, Malaysia, hingga kostum latihan tim sepakbola Bahrain. "Nama kami lumayan terkenal di kalangan pembuat baju di Bandung," ujarnya, bangga. Pei mengawali usaha ini dari Yayasan Adikaka, sebuah yayasan yang didirikannya bersama beberapa temannya pada 1999. Yayasan itu bertujuan membantu anggota komunitas underground. "Termasuk, menjembatani hubungan orang tua dengan anaknya," ujar Pei. Dia melihat, keberadaan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli pada anak muda belum tentu menggunakan pendekatan yang tepat. "Kita harus tahu latar belakang dan watak anak muda. Karakter anak punk, anak reggae, atau anak jalanan berbeda," tandasnya. Sekarang, Pei mampu menjalankan yayasan dan bisnis distronya dengan baik. Keuntungan dari usaha itu dia pakai untuk membuat arena bermain mungil sederhana di depan kantornya. Soalnya, dia prihatin dengan minimnya lahan bermain anak-anak, terutama di pemukiman padat penduduk seperti tempat tinggalnya sekarang. Semua itu Pei lakukan demi kebaikan anak-anak lain. "Saya tidak ingin mereka mengalami masa lalu seperti saya," ujar pria berusia 32 tahun itu. Pei membeberkan kisahnya, bahwa dia berasal dari keluarga berantakan. Dia sering mengalami tindak kekerasan dari ayahnya. Maka, kini dia bertekad membantu anak lain menatap masa depan yang lebih cerah. (Bersambung)

Phaerly Musadi, Raja Kaos Distro Pemuja Underground (2)

Mengambil jalan underground adalah pilihan hidup seorang Phaerly Mauiec Musadi. Yaitu dengan tidak mau menggantungkan hidupnya dengan bekerja pada satu perusahaan. Dengan motto hidupnya yaitu “Do It Your Self”, Pei begitu ia biasa disapa menjalankan usaha sablon dan konveksi baju. Lewat bisnis yang bernama Distribute Merchandising.
Tetapi untuk mendapatkan kesuksesan bukanlah jalan yang mudah untuk dicapai oleh seorang Pei. Dia harus jatuh bangun untuk membangun bisnisnya itu. Dimulai pada tahun 2001, dia membangun bisnisnya itu dengan modal Rp 5 juta dari pinjaman saudaranya. Modal itupun tidak sepenuhnya dipakai karena harus membayar uang kuliahnya di Bandung. “Saat itu saya juga sudah menikah, dan harus memulai hidup dengan duit sebesar itu,” kenangnya.

Alhasil, dia pun memulai bisnisnya itu dengan memproduksi baju-baju untuk dipasarkan sebanyak 2 lusin saja. Itupun dia hanya desain gambarnya saja, karena dia harus mengerjakannya ke tukang sablon. “Saya pasarkan sendiri ke komunitas-komunitas,” ujarnya.
Perlahan-lahan, karena memang dekat dengan kalangan musik Bandung yang suka dengan desain bajunya, Pei berhasil meningkatkan produksinya itu. “Meningkat jadi 6 lusin, saya pasarkan ke distro,” ujarnya. Tidak mau merasa jumawa, Pei mulai melirik produksi baju-baju eksport yang punya kualitas lebih bagus. Dia pun menginginkan agar kualitas bajunya itu bisa sama. Tapi sayangnya untuk bisa menghasilkan baju eksport itu, dia harus memiliki mesin plastisol yang harganya sangat mahal.

“Harganya Rp 70 sampai dengan Rp 100 juta,” ujarnya. Dia tidak mungkin membeli mesin itu, tetapi dia kembali teringat dengan motto hidupnya “Do It Your Self”. “Saya banyak meriset dan bertanya dengan forum tukang cetak baju di luar negri,” ujarnya. Dia pun mulai merakit desain mesin yang bisa menghasilkan baju berkualitas sama. Akhirnya pada tahun 2004, dia berhasil menciptakan mesin sendiri.

Yang membuat namanya semakin berkibar di dunia sablon dan cetak baju. Order pun terus menghampiri Pei. Distro-distro di Bandung semakin senang dengan produksi baju distribute merchandise ini. Bukan hanya itu dia juga berhasil menembus pasar internasional. Baju buatannya pun terbang ke luar negeri, seperti dari Grand Prix Formula Satu (F1) Sepang, Malaysia, hingga kostum latihan tim sepakbola Bahrain.
Hasil keuntungannya ini tidak dia nikamti sendiri. Kebanyakan untungnya banyak mampir ke yayasan Adikaka, sebuah yayasan yang didirikannya bersama beberapa temannya pada 1999. Yayasan itu bertujuan membantu anggota komunitas underground. Program demi program dijalankannya, termasuk dengan mendirikan taman bermain buat anak kecil di sekitar rumahnya.

Phaerly Musadi, Raja Kaos Distro (3-selesai)

Pengalaman masa kecil sebagai korban kekerasan dalam keluarga membuat Phaerly Mauiec Musadi tergerak membantu sesama agar nasib serupa tak menimpa orang lain. Inilah yang mendorongnya membangun bisnis, yang sebagian keuntungannya dia pakai membiayai tujuan mulianya itu. Kini, usaha dan kegiatan sosialnya itu sama-sama sukses.Pengantar: Introduction: Body: Di balik keberhasilan sekarang ini, ternyataphaerlyMauiec Musadi atau biasa disapa Pei punya pengalaman masa kecil yang pahit. Ia sering mendapat pukulan dan kekerasan dari ayahnya. Ia ingin pengalaman itu menimpa orang lain. Pei mengaku, sejak ia kecil, ayahnya menerapkan aturan ketat. Pria berumur 32 tahun ini bercerita, begitu bel pulang sekolah berbunyi pada pukul 12.00, Pei wajib sudah sampai rumah pada pukul 12.10. Sang ayah akan selalu mengecek dengan menelepon. Pei harus mengangkat telepon maksimal setelah mendengar dering telepon dua kali. Kalau tidak, "Saya akan dimarahi habis-habisan," kenang Pei. Meski asli orang Indonesia, Pei lahir dan menghabiskan masa kecil di Jerman. Saat itu, ayahnya mendapat pekerjaan di sana. Saking keras sang ayah, ia kerap mendapatkan pukulan dan diusir saat kemarahan ayahnya memuncak. Begitu beranjak dewasa dan lepas dari sang ayah, Pei menyadari kesalahan ayahnya. "Segala macam kekerasan tidak boleh terjadi pada saya, adik saya, atau siapa pun," ujarnya. Tekad itu ia buktikan dengan mendirikan Yayasan Adikaka sejak tahun 1999. Yayasan ini menjadi jembatan memahami masalah anak muda. Tetapi perjalanan mendirikan Yayasan Adikaka juga tidak mulus. Program yang ia susun banyak yang tidak berjalan karena terbentur masalah dana. "Saya baru tahu, kalau idealis itu ternyata juga butuh dana," kekehnya sedikit menertawakan idenya saat itu. Meski begitu, dengan latar belakang dunia underground yang berprinsip do it your self, Pei tak mau mengemis dana kepada perusahaan atau pendana lain. "Aneh saja, kalau ada acara Yayasan Adikaka, tapi penuh dengan spanduk atau iklan beberapa produk," ujarnya. Maka, Pei membuka distribute merchandising sebagai bagian dari bisnis buat menyokong hidup yayasannya. Agar lebih banyak fokus ke bisnis distribute merchandising, Pei menidurkan sementara aktivitas Yayasan Adikaka. Berkat kegigihannya, usaha Pei semakin sukses. Bukan hanya berhasil memasarkan baju buatannya ke berbagai distro, produk desainnya juga banyak dipesan komunitas dan perusahaan di dalam negeri dan perusahaan di luar negeri. Kini, dalam sehari, ia bisa memproduksi baju dan kaos berkisar antara 400 potong hingga 800 potong. Sukses ini membuat Pei kembali membangunkan yayasannya, pada 2005. Yayasannya mulai menggalang kampanye agar orang tua bersedia memahami masalah anak-anak. Ia ingin menyampaikan pesan bahwa orang tua harus meluangkan waktu bermain bersama anaknya, minimal 15 menit sehari. "Orang tua jangan hanya menuntut anak agar mengerti kesibukan orang tua. Tapi orang tua juga harus mengerti kebutuhan anak. Seperti, mau nonton Sponge Bob bersama atau pergi nonton konser musik sekeluarga," ujarnya. Dari penghasilan bisnis baju distro, Pei juga membangun arena bermain mungil di depan kantornya di Bandung. Ia merasa prihatin dengan semakin minimnya lahan bermain untuk anak-anak. Apalagi di pemukiman padat penduduk seperti tempat tinggalnya di Baranang Siang, Bandung, Jawa Barat. Kini, ada lebih dari 30 anak yang sehari-hari menghabiskan waktunya di arena yang dinamai The Neverland Playground tersebut. Melalui arena bermain ini, Pei mengajarkan anak-anak mematuhi aturan. Yakni, menjaga kebersihan, terbiasa ikut antrean, dan tidak boleh omong kasar. Jika melanggar, anak-anak akan mendapat hukuman mulai dari push-up hingga tidak boleh datang bermain lagi. Jika berprestasi, anak-anak akan mendapat hadiah seperti stiker atau kaos. Semuanya ini dilakukan dengan tujuan tulus. "Saya ingin masa lalu saya tidak terulang lagi," ungkap Pei. Sembari menjalankan yayasannya, Pei juga ingin terus menekuni bisnis bajunya lewat distribute merchandising, sembari beraktivitas di Yayasan Adikaka. Kedua bidang ini memang memiliki tujuan berbeda. "Satu nirlaba dan satu lagi mencari laba. Tapi, keduanya saling mendukung," ujar Pei, diplomatis. (Selesai) (KONTAN 28-30 agustus 2008 lamgiat siringoringo)

Tidak ada komentar: