Minggu, 07 September 2008

Singgih Kartono, Produsen Radio Kayu Idealis

Singgih Kartono, Pembuat Radio Kayu dari Temanggung yang Mendunia (1)

Berawal dari kegemaran membuat produk berbahan baku kayu, Singgih Kartono terkenal sebagai pembuat radio kayu (wooden radio) yang sangat diminati pembeli dari luar negeri. Ia menyampaikan pesan soal menghargai lingkungan.

USAHA yang ulet dengan ditambah sikap sabar sering menjadi resep sukses banyak orang. Salah satu yang telah merasakan kemanjuran resep ini adalahsinggihKartono. Ia tanpa henti berkreasi dan menghasilkan produk berkualitas, pria asal Temanggung, Jawa Tengah, itu mampu meraih sukses, di dalam negeri maupun luar negeri. Singgih dikenal sebagai pembuat dan pendesain radio kayu (wooden radio) yang kualitasnya sudah diakui di banyak negara sejak hampir sepuluh tahun terakhir. Radio unik buatannya itu sudah tersebar ke luar negeri.

Mulai dari Jepang, Inggris, Perancis bahkan sampai ke negara-negara Skandinavia. Jepang, misalnya, tiap bulan meminta kiriman 50 unit Magno, merek radio kayu buatan Singgih. Jumlah itu belum seberapa dibanding pasar lain. Permintaan dari Amerika Serikat dan Kanada jauh lebih besar lagi. "Mereka sampai meminta 1.000 unit radio," ujarnya. Radio kayu buatansinggihmemang istimewa, sangat berbeda dengan produk radio lain.

Satu hal yang menonjol, tampilan luar (casing) radio itu terbuat dari kayu pinus dan sonokeling. Bentuknya juga unik. Mungil, mengingatkan pada bentuk radio tua yang cukup populer pada masa 30 tahun silam. Selain bentuk dan desain yang unik, bahan baku dari kayu disukai pembeli dari luar negeri lantaran dianggap lebih ramah lingkungan. Produk handmade ini melejit di tengah isu kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh industri besar. Saat ini, setiap bulan, di bengkel Piranti Works miliknya,singgihmemproduksi 300 radio kayu. Ia dibantu 32 karyawan.

"Semuanya berasal dari kampung saya di Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah," ujarnya. Singgih tak begitu saja mencapai kesuksesan. Idesinggihmembuat radio kayu sudah tercetus sejak lulus kuliah pada 1992. Waktu itu dia memang mendalami konsep radio kayu sebagai proyek tugas akhir di Jurusan Disain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Sayang, keinginan membuat radio itu harus mentok di tengah jalan. "Saya tidak punya dana buat modal produksi dan pemasaran," ujar Singgih. Alhasil, karena mentok dengan masalah klasik itu,singgih harus menyimpan rapat-rapat keinginannya itu. Setelah lulus kuliah,singgihbekerja di Bandung.

"Saya bekerja di perusahaan kayu," ujarnya. Sejak kecil, ia memang menyukai produk dengan bahan baku kayu. Di tempat kerja tersebut, kemampuan dan keahliansinggihjustru semakin terasah. Tiga tahun bekerja di perusahaan itu,singgihlantas memutuskan keluar dan membuka usaha sendiri. "Saya pulang kampung buat mendirikan usaha," ujarnya. Dengan modal kecil-kecilan, pada 1995, bersama dengan seorang temannya,singgihmembuat produk kerajinan berbahan kayu. "Saat itu, pertama kali, saya membuat mainan anak dari kayu," ujarnya. Tapi, kerjasama ini tak berlangsung lama.

Lantaran alasan perbedaan prinsip, kongsi itu putus di tengah jalan. Alhasil,singgihharus memulai lagi usaha pembuatan produk dari kayu dari nol. Dengan menggunakan sebuah ruang di rumahnya yang berukuran lima meter,singgihmulai kembali membangun usahanya. Ia mulai membuat produk-produk kayu seperti kaca pembesar dengan bingkai kayu dalam berbagai ukuran. Ia juga mulai membuat alat-alat kantor. Di sela pekerjaannya,singgihmasih sempat iseng-iseng membuat radio dari kayu. "Saya beli radio biasa di pasar, bungkus plastiknya saya preteli, lantas saya ganti dengan kayu," ujarnya. Singgih mulai aktif mengikutkan radio kayu buatannya di beberapa ajang kompetisi disain. Salah satunya adalah ajang International Design Resource Award di Seattle, Amerika Serikat pada 1997. Di ajang ini,singgihkeluar sebagai pemenang dan membuat dunia melek terhadap produk radio kayu buatannya. (Bersambung)

Singgih Kartono, Pembuat Radio Kayu dari Temanggung (2)

Meskipun memenangi penghargaan disain tingkat dunia, tidak mudah Singgih Kartono mewujudkan ambisinya untuk memasarkan radio kayu Magno. Pasalnya, untuk memasarkan produknya itu membutuhkan dana besar. Hingga, suatu ketika, pengusaha elektronik dalam negeri membantunya sehingga dia bisa menjual radio berbodi kayu buatannya.

MEMENANGI ajang lomba disain tingkat dunia tidak lantas membuat suatu produk melambung tinggi.singgihKartono sudah merasakannya. Meskipun menang ajang International Design Resource Award di Seattle, Amerika Serikat pada 1997, radio kayu buatannya tidak otomatis langsung terjual laris. Malah, sewaktu memasarkan dan memproduksi Magno Wooden Radio, nama radio itu, dia harus merogoh kantong sendiri dalam jumlah banyak. "Harga mesin dalam radio itu mahal. Saya belum mampu membelinya," ujarnya.

Alhasil, dia pun harus kembali mengurungkan niatnya menjual Magno. Padahal, ide itu sudah ada sejak dia lulus kuliah pada 1992. Waktu itu,singgihmemang mendalami konsep radio kayu sebagai proyek tugas akhir di Jurusan Desain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB). Singgih pun kembali ke bisnisnya selama ini, yakni memproduksi barang-barang kayu seperti alat-alat perkantoran.

Tapi, kondisi itu tidak berlangsung lama. Ogah menyerah pada keadaan, dia masih ngotot memproduksi dan memasarkan radio kayunya.singgihhanya berpikir bagaimana cara agar bisa bertandang ke luar negeri dan mencari pemodal yang bersedia menyuntikkan modal menjalankan usaha produksi radio kayunya itu. Kesabaransinggihmulai membuahkan hasil. Pada 2005, dia mendapatkan kesempatan terbang ke Jepang untuk mengikuti pameran di Negeri Samurai itu. "Karena saya memenangi sebuah penghargaan di Jakarta. Saya diutus pergi ke Jepang," ujarnya mengenang. Dia pun tak menyia-nyiakan kesempatan dengan membawa beberapa contoh produk radio buatannya ke pameran itu.

Namun, lagi-lagi nasib baik belum berpihak ke Singgih. "Responnya belum begitu positif," katanya. Dia hanya mendapatkan satu proyek di Jepang, yakni membuat mainan anak dari batok kelapa. Tapi, itu tidak membuatnya putus asa. Dia tetap menggarap proyek pesanan tersebut dengan senang hati. Akhirnya, titik terang muncul pada sebuah pameran di Jakarta. Di sana,singgihberkenalan dengan salah seorang pengusaha pemilik perusahaan elektronik besar. Pengusaha itulah yang menjanjikan sokongan dana untuk kegiatan produksi radio kayu.

"Akhirnya, komponen radionya tersedia," ujar Singgih. Alhasil, dia bisa memproduksi radio kayu dan memasarkannya ke berbagai negara. Pembeli asal Jepang yang dia layani dengan baik pun membantu memasarkan radio kayu itu. Berbekal sistem pemasaran online, Magno terus merangsek ke Jepang, Inggris, Prancis, bahkan sampai ke negara-negara Skandinavia. Di Jepang, misalnya, setiap bulan meminta kiriman 50 unit Magno. Radio kayu buatansinggihmemang istimewa, sangat berbeda dengan radio lain. Satu hal yang menonjol adalah tampilan luar (casing) radio yang terbuat dari kayu pinus dan sonokeling. (Bersambung)


Singgih Kartono, Pembuat Radio Kayu Magno (3-Selesai)

Bertahan di tengah persaingan bisnis bukan hal yang mudah. Jauh lebih sulit ketimbang memulai bisnis pertama kali. Singgih Kartono agaknya tahu betul tentang hal itu, utamanya dalam memasarkan radio kayu Magno. Dia pun terus berupaya agar kualitas radio kayu buatannya tetap bisa bertahan, dan pasar tetap terbuka. Tak heran, ia selalu mendidik pegawainya dan selektif dalam memilih mitra pemasar.

Dalam bisnis, siapa yang bisa mempertahankan kualitas produk, dia yang akan terus bertahan. Prinsip ini yang menjadi pegangansinggihKartono. Setelah berhasil memasarkan radio kayu buatannya ke berbagai negara,singgihterus berusaha menjaga kualitas radio kayu Magno. Meskipun terdengar klise, pria berumur 40 tahun ini sudah mengalaminya sendiri. "Ini penting untuk menjaga pasar tetap terbuka," ujarnya.

Tengok saja, setelah berhasil memasarkan Magno di Jepang, Inggris, Prancis, dan negara-negara Skandinavia, radio kayu buatansinggihakhirnya bisa menembus pasar Amerika Serikat dan Kanada. Radio kayu buatansinggihsudah laku masing-masing 1.000 unit di kedua negara ini. Tapi, dia tetap berusaha menjaga kualitas Magno. Dia menanamkan prinsip itu ke seluruh karyawannya. "Sekecil apapun pekerjaan karyawan, mereka tetap harus menjaga kualitas," ujarnya.

Apalagi, Magno sudah mendapat pesaing baru, yakni radio kayu buatan China. Singgih mengajarkan kepada 32 karyawannya di Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah, agar konsisten menjaga standar radio kayu. Dia pun mendidik calon karyawan yang mulai dari nol, yakni yang sama sekali tidak memiliki latar belakang pengalaman di bidang seni kerajinan kayu, sampai benar-benar mahir memproduksi radio. Sampai sekarang,singgihsetiap pagi mengumpulkan karyawannya untuk berdiskusi tentang kualitas produk. Itu ia lakukan semata-mata agar kualitas Magno tetap terjaga.

Dia selalu menanamkan bahwa dalam seni, semua orang memiliki skill dan bakat. "Tapi, yang paling penting adalah kedisiplinan. Jangan karena barangnya sudah laku, lalu membuatnya jadi asal-asalan," ujarnya, membuka resep bertahan di bisnis ini. Sampai saat ini, dengan bantuan istrinya,singgihtetap berupaya agar pasar radio kayu Magno semakin luas. Kesuksesan melebarkan sayap ke berbagai negara pun tak membuatsinggihserakah. Salah satunya, dia tidak sembarang mencari mitra pemasaran di luar negeri. Jika si pembeli hanya berorientasi pada penjualan, dia akan menolak memasok radio kayu.

"Ini adalah produk seni. Jadi harus orang yang benar-benar mengerti produk saya dulu, baru saya memasok kepada mereka," ujarnya. Baginya, radio kayu buatannya harus jatuh ke tangan pembeli yang bisa menghargai seni. Maka, para calon mitranya harus tetap memenuhi persyaratan yang dia ajukan. Berbagai persyaratan itu merupakan harga mati. Alhasil acap terjadi, para pelamar yang tertarik memasarkan Magno, harus gigit jari karena tak bisa memenuhi syarat dari Singgih.

Bagi Singgih, keberhasilannya selama ini justru merupakan buah kegigihannya mempertahankan idealisme seni, bukan semata-mata mengejar untung. Prinsip itu ia pegang sama seperti sewaktu pertama kali menemukan konsep radio kayu sebagai proyek tugas akhir di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung Tentu, banyak baiknya pengusaha kecil di dalam negeri meniru idealisme alasinggihini, terutama ketika hendak melebarkan sayap bisnis ke luar negeri. (Selesai) (KONTAN 04-06 september 2008 lamgiat siringoringo)

1 komentar:

Griya Gallery mengatakan...

Mas, saya sudah lama kepengen beli Magno, tapi kok susah ya. Tau caranya nggak mas? Masalahnya ini ekspor sih ya? Duh, radionya keren banget.