Singgih Kartono, Pembuat Radio Kayu dari Temanggung yang Mendunia (1)
Berawal dari kegemaran membuat produk berbahan baku kayu, Singgih Kartono terkenal sebagai pembuat radio kayu (wooden radio) yang sangat diminati pembeli dari luar negeri. Ia menyampaikan pesan soal menghargai lingkungan.
USAHA yang ulet dengan ditambah sikap sabar sering menjadi resep sukses banyak orang. Salah satu yang telah merasakan kemanjuran resep ini adalahsinggihKartono. Ia tanpa henti berkreasi dan menghasilkan produk berkualitas, pria asal Temanggung, Jawa Tengah, itu mampu meraih sukses, di dalam negeri maupun luar negeri. Singgih dikenal sebagai pembuat dan pendesain radio kayu (wooden radio) yang kualitasnya sudah diakui di banyak negara sejak hampir sepuluh tahun terakhir. Radio unik buatannya itu sudah tersebar ke luar negeri.
Mulai dari Jepang, Inggris, Perancis bahkan sampai ke negara-negara Skandinavia. Jepang, misalnya, tiap bulan meminta kiriman 50 unit Magno, merek radio kayu buatan Singgih. Jumlah itu belum seberapa dibanding pasar lain. Permintaan dari Amerika Serikat dan Kanada jauh lebih besar lagi. "Mereka sampai meminta 1.000 unit radio," ujarnya. Radio kayu buatansinggihmemang istimewa, sangat berbeda dengan produk radio lain.
Satu hal yang menonjol, tampilan luar (casing) radio itu terbuat dari kayu pinus dan sonokeling. Bentuknya juga unik. Mungil, mengingatkan pada bentuk radio tua yang cukup populer pada masa 30 tahun silam. Selain bentuk dan desain yang unik, bahan baku dari kayu disukai pembeli dari luar negeri lantaran dianggap lebih ramah lingkungan. Produk handmade ini melejit di tengah isu kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh industri besar. Saat ini, setiap bulan, di bengkel Piranti Works miliknya,singgihmemproduksi 300 radio kayu. Ia dibantu 32 karyawan.
"Semuanya berasal dari kampung saya di Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah," ujarnya. Singgih tak begitu saja mencapai kesuksesan. Idesinggihmembuat radio kayu sudah tercetus sejak lulus kuliah pada 1992. Waktu itu dia memang mendalami konsep radio kayu sebagai proyek tugas akhir di Jurusan Disain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Sayang, keinginan membuat radio itu harus mentok di tengah jalan. "Saya tidak punya dana buat modal produksi dan pemasaran," ujar Singgih. Alhasil, karena mentok dengan masalah klasik itu,singgih harus menyimpan rapat-rapat keinginannya itu. Setelah lulus kuliah,singgihbekerja di Bandung.
"Saya bekerja di perusahaan kayu," ujarnya. Sejak kecil, ia memang menyukai produk dengan bahan baku kayu. Di tempat kerja tersebut, kemampuan dan keahliansinggihjustru semakin terasah. Tiga tahun bekerja di perusahaan itu,singgihlantas memutuskan keluar dan membuka usaha sendiri. "Saya pulang kampung buat mendirikan usaha," ujarnya. Dengan modal kecil-kecilan, pada 1995, bersama dengan seorang temannya,singgihmembuat produk kerajinan berbahan kayu. "Saat itu, pertama kali, saya membuat mainan anak dari kayu," ujarnya. Tapi, kerjasama ini tak berlangsung lama.
Lantaran alasan perbedaan prinsip, kongsi itu putus di tengah jalan. Alhasil,singgihharus memulai lagi usaha pembuatan produk dari kayu dari nol. Dengan menggunakan sebuah ruang di rumahnya yang berukuran lima meter,singgihmulai kembali membangun usahanya. Ia mulai membuat produk-produk kayu seperti kaca pembesar dengan bingkai kayu dalam berbagai ukuran. Ia juga mulai membuat alat-alat kantor. Di sela pekerjaannya,singgihmasih sempat iseng-iseng membuat radio dari kayu. "Saya beli radio biasa di pasar, bungkus plastiknya saya preteli, lantas saya ganti dengan kayu," ujarnya. Singgih mulai aktif mengikutkan radio kayu buatannya di beberapa ajang kompetisi disain. Salah satunya adalah ajang International Design Resource Award di Seattle, Amerika Serikat pada 1997. Di ajang ini,singgihkeluar sebagai pemenang dan membuat dunia melek terhadap produk radio kayu buatannya. (Bersambung)
Singgih Kartono, Pembuat Radio Kayu dari Temanggung (2)
Meskipun memenangi penghargaan disain tingkat dunia, tidak mudah Singgih Kartono mewujudkan ambisinya untuk memasarkan radio kayu Magno. Pasalnya, untuk memasarkan produknya itu membutuhkan dana besar. Hingga, suatu ketika, pengusaha elektronik dalam negeri membantunya sehingga dia bisa menjual radio berbodi kayu buatannya.
MEMENANGI ajang lomba disain tingkat dunia tidak lantas membuat suatu produk melambung tinggi.singgihKartono sudah merasakannya. Meskipun menang ajang International Design Resource Award di Seattle, Amerika Serikat pada 1997, radio kayu buatannya tidak otomatis langsung terjual laris. Malah, sewaktu memasarkan dan memproduksi Magno Wooden Radio, nama radio itu, dia harus merogoh kantong sendiri dalam jumlah banyak. "Harga mesin dalam radio itu mahal. Saya belum mampu membelinya," ujarnya.
Alhasil, dia pun harus kembali mengurungkan niatnya menjual Magno. Padahal, ide itu sudah ada sejak dia lulus kuliah pada 1992. Waktu itu,singgihmemang mendalami konsep radio kayu sebagai proyek tugas akhir di Jurusan Desain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB). Singgih pun kembali ke bisnisnya selama ini, yakni memproduksi barang-barang kayu seperti alat-alat perkantoran.
Tapi, kondisi itu tidak berlangsung lama. Ogah menyerah pada keadaan, dia masih ngotot memproduksi dan memasarkan radio kayunya.singgihhanya berpikir bagaimana cara agar bisa bertandang ke luar negeri dan mencari pemodal yang bersedia menyuntikkan modal menjalankan usaha produksi radio kayunya itu. Kesabaransinggihmulai membuahkan hasil. Pada 2005, dia mendapatkan kesempatan terbang ke Jepang untuk mengikuti pameran di Negeri Samurai itu. "Karena saya memenangi sebuah penghargaan di Jakarta. Saya diutus pergi ke Jepang," ujarnya mengenang. Dia pun tak menyia-nyiakan kesempatan dengan membawa beberapa contoh produk radio buatannya ke pameran itu.
Namun, lagi-lagi nasib baik belum berpihak ke Singgih. "Responnya belum begitu positif," katanya. Dia hanya mendapatkan satu proyek di Jepang, yakni membuat mainan anak dari batok kelapa. Tapi, itu tidak membuatnya putus asa. Dia tetap menggarap proyek pesanan tersebut dengan senang hati. Akhirnya, titik terang muncul pada sebuah pameran di Jakarta. Di sana,singgihberkenalan dengan salah seorang pengusaha pemilik perusahaan elektronik besar. Pengusaha itulah yang menjanjikan sokongan dana untuk kegiatan produksi radio kayu.
"Akhirnya, komponen radionya tersedia," ujar Singgih. Alhasil, dia bisa memproduksi radio kayu dan memasarkannya ke berbagai negara. Pembeli asal Jepang yang dia layani dengan baik pun membantu memasarkan radio kayu itu. Berbekal sistem pemasaran online, Magno terus merangsek ke Jepang, Inggris, Prancis, bahkan sampai ke negara-negara Skandinavia. Di Jepang, misalnya, setiap bulan meminta kiriman 50 unit Magno. Radio kayu buatansinggihmemang istimewa, sangat berbeda dengan radio lain. Satu hal yang menonjol adalah tampilan luar (casing) radio yang terbuat dari kayu pinus dan sonokeling. (Bersambung)
Singgih Kartono, Pembuat Radio Kayu Magno (3-Selesai)
Bertahan di tengah persaingan bisnis bukan hal yang mudah. Jauh lebih sulit ketimbang memulai bisnis pertama kali. Singgih Kartono agaknya tahu betul tentang hal itu, utamanya dalam memasarkan radio kayu Magno. Dia pun terus berupaya agar kualitas radio kayu buatannya tetap bisa bertahan, dan pasar tetap terbuka. Tak heran, ia selalu mendidik pegawainya dan selektif dalam memilih mitra pemasar.
Dalam bisnis, siapa yang bisa mempertahankan kualitas produk, dia yang akan terus bertahan. Prinsip ini yang menjadi pegangansinggihKartono. Setelah berhasil memasarkan radio kayu buatannya ke berbagai negara,singgihterus berusaha menjaga kualitas radio kayu Magno. Meskipun terdengar klise, pria berumur 40 tahun ini sudah mengalaminya sendiri. "Ini penting untuk menjaga pasar tetap terbuka," ujarnya.
Tengok saja, setelah berhasil memasarkan Magno di Jepang, Inggris, Prancis, dan negara-negara Skandinavia, radio kayu buatansinggihakhirnya bisa menembus pasar Amerika Serikat dan Kanada. Radio kayu buatansinggihsudah laku masing-masing 1.000 unit di kedua negara ini. Tapi, dia tetap berusaha menjaga kualitas Magno. Dia menanamkan prinsip itu ke seluruh karyawannya. "Sekecil apapun pekerjaan karyawan, mereka tetap harus menjaga kualitas," ujarnya.
Apalagi, Magno sudah mendapat pesaing baru, yakni radio kayu buatan China. Singgih mengajarkan kepada 32 karyawannya di Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah, agar konsisten menjaga standar radio kayu. Dia pun mendidik calon karyawan yang mulai dari nol, yakni yang sama sekali tidak memiliki latar belakang pengalaman di bidang seni kerajinan kayu, sampai benar-benar mahir memproduksi radio. Sampai sekarang,singgihsetiap pagi mengumpulkan karyawannya untuk berdiskusi tentang kualitas produk. Itu ia lakukan semata-mata agar kualitas Magno tetap terjaga.
Dia selalu menanamkan bahwa dalam seni, semua orang memiliki skill dan bakat. "Tapi, yang paling penting adalah kedisiplinan. Jangan karena barangnya sudah laku, lalu membuatnya jadi asal-asalan," ujarnya, membuka resep bertahan di bisnis ini. Sampai saat ini, dengan bantuan istrinya,singgihtetap berupaya agar pasar radio kayu Magno semakin luas. Kesuksesan melebarkan sayap ke berbagai negara pun tak membuatsinggihserakah. Salah satunya, dia tidak sembarang mencari mitra pemasaran di luar negeri. Jika si pembeli hanya berorientasi pada penjualan, dia akan menolak memasok radio kayu.
"Ini adalah produk seni. Jadi harus orang yang benar-benar mengerti produk saya dulu, baru saya memasok kepada mereka," ujarnya. Baginya, radio kayu buatannya harus jatuh ke tangan pembeli yang bisa menghargai seni. Maka, para calon mitranya harus tetap memenuhi persyaratan yang dia ajukan. Berbagai persyaratan itu merupakan harga mati. Alhasil acap terjadi, para pelamar yang tertarik memasarkan Magno, harus gigit jari karena tak bisa memenuhi syarat dari Singgih.
Bagi Singgih, keberhasilannya selama ini justru merupakan buah kegigihannya mempertahankan idealisme seni, bukan semata-mata mengejar untung. Prinsip itu ia pegang sama seperti sewaktu pertama kali menemukan konsep radio kayu sebagai proyek tugas akhir di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung Tentu, banyak baiknya pengusaha kecil di dalam negeri meniru idealisme alasinggihini, terutama ketika hendak melebarkan sayap bisnis ke luar negeri. (Selesai) (KONTAN 04-06 september 2008 lamgiat siringoringo)
Minggu, 07 September 2008
Phaerly Musadi, Pebisnis Jiwa Underground
Phaerly Musadi, Raja Kaos Distro Pemuja Underground (1)
Setiap orang bisa menjadi cahaya bagi kehidupan orang lain. Begitulah, masa lalu yang buruk mendorong Phaerly Mauiec Musadi menjadi orang yang peduli dan pebisnis tangguh. Dia mendirikan bisnis pembuatan baju dan yayasan pemerhati anak muda. Bersama komunitas underground asal Bandung, Pei membangun tujuan hidupnya yakni membantu orang lain berkarya.
SIAPA yang tidak mengenal dunia musik underground? Komunitas musik underground identik dengan kekerasan, narkoba, hingga seks bebas. Namun, di tangan seorang penggemar musik underground sepertiphaerlyMauiec Musadi, wajah komunitas underground menjadi berbeda. Pei, begitu dia biasa disapa, tetap setia menikmati aliran underground. Kecintaan pada musik underground mendorong Pei memberdayakan komunitas musik keras itu. Ia menggelar berbagai kegiatan yang bernilai ekonomi dan sosial guna menyingkirkan cap buruk komunitas underground. Bersama dengan komunitas underground di Bandung, Jawa Barat, Pei menjalankan usaha sablon dan konveksi baju. Lewat bisnis bernama Distribute Merchandising itu, Pei mampu memberikan kegiatan yang positif bagi anak-anak underground di daerahnya. Kini, usahanya itu semakin berkibar. Dalam sehari, dia bisa memproduksi baju dan kaos berkisar 400 potong hingga 800 potong. Konveksi karya komunitas underground itu banyak tersebar di distribution outlet (distro) terkenal di sekitar Bandung. Baju buatan mereka juga banyak menghiasi komunitas seperti Harley Owner Motor Indonesia atau komunitas band-band besar di Bandung. Bahkan, Pei pernah mendapatkan pesanan baju dari luar negeri, seperti dari Grand Prix Formula Satu (F1) Sepang, Malaysia, hingga kostum latihan tim sepakbola Bahrain. "Nama kami lumayan terkenal di kalangan pembuat baju di Bandung," ujarnya, bangga. Pei mengawali usaha ini dari Yayasan Adikaka, sebuah yayasan yang didirikannya bersama beberapa temannya pada 1999. Yayasan itu bertujuan membantu anggota komunitas underground. "Termasuk, menjembatani hubungan orang tua dengan anaknya," ujar Pei. Dia melihat, keberadaan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli pada anak muda belum tentu menggunakan pendekatan yang tepat. "Kita harus tahu latar belakang dan watak anak muda. Karakter anak punk, anak reggae, atau anak jalanan berbeda," tandasnya. Sekarang, Pei mampu menjalankan yayasan dan bisnis distronya dengan baik. Keuntungan dari usaha itu dia pakai untuk membuat arena bermain mungil sederhana di depan kantornya. Soalnya, dia prihatin dengan minimnya lahan bermain anak-anak, terutama di pemukiman padat penduduk seperti tempat tinggalnya sekarang. Semua itu Pei lakukan demi kebaikan anak-anak lain. "Saya tidak ingin mereka mengalami masa lalu seperti saya," ujar pria berusia 32 tahun itu. Pei membeberkan kisahnya, bahwa dia berasal dari keluarga berantakan. Dia sering mengalami tindak kekerasan dari ayahnya. Maka, kini dia bertekad membantu anak lain menatap masa depan yang lebih cerah. (Bersambung)
Phaerly Musadi, Raja Kaos Distro Pemuja Underground (2)
Mengambil jalan underground adalah pilihan hidup seorang Phaerly Mauiec Musadi. Yaitu dengan tidak mau menggantungkan hidupnya dengan bekerja pada satu perusahaan. Dengan motto hidupnya yaitu “Do It Your Self”, Pei begitu ia biasa disapa menjalankan usaha sablon dan konveksi baju. Lewat bisnis yang bernama Distribute Merchandising.
Tetapi untuk mendapatkan kesuksesan bukanlah jalan yang mudah untuk dicapai oleh seorang Pei. Dia harus jatuh bangun untuk membangun bisnisnya itu. Dimulai pada tahun 2001, dia membangun bisnisnya itu dengan modal Rp 5 juta dari pinjaman saudaranya. Modal itupun tidak sepenuhnya dipakai karena harus membayar uang kuliahnya di Bandung. “Saat itu saya juga sudah menikah, dan harus memulai hidup dengan duit sebesar itu,” kenangnya.
Alhasil, dia pun memulai bisnisnya itu dengan memproduksi baju-baju untuk dipasarkan sebanyak 2 lusin saja. Itupun dia hanya desain gambarnya saja, karena dia harus mengerjakannya ke tukang sablon. “Saya pasarkan sendiri ke komunitas-komunitas,” ujarnya.
Perlahan-lahan, karena memang dekat dengan kalangan musik Bandung yang suka dengan desain bajunya, Pei berhasil meningkatkan produksinya itu. “Meningkat jadi 6 lusin, saya pasarkan ke distro,” ujarnya. Tidak mau merasa jumawa, Pei mulai melirik produksi baju-baju eksport yang punya kualitas lebih bagus. Dia pun menginginkan agar kualitas bajunya itu bisa sama. Tapi sayangnya untuk bisa menghasilkan baju eksport itu, dia harus memiliki mesin plastisol yang harganya sangat mahal.
“Harganya Rp 70 sampai dengan Rp 100 juta,” ujarnya. Dia tidak mungkin membeli mesin itu, tetapi dia kembali teringat dengan motto hidupnya “Do It Your Self”. “Saya banyak meriset dan bertanya dengan forum tukang cetak baju di luar negri,” ujarnya. Dia pun mulai merakit desain mesin yang bisa menghasilkan baju berkualitas sama. Akhirnya pada tahun 2004, dia berhasil menciptakan mesin sendiri.
Yang membuat namanya semakin berkibar di dunia sablon dan cetak baju. Order pun terus menghampiri Pei. Distro-distro di Bandung semakin senang dengan produksi baju distribute merchandise ini. Bukan hanya itu dia juga berhasil menembus pasar internasional. Baju buatannya pun terbang ke luar negeri, seperti dari Grand Prix Formula Satu (F1) Sepang, Malaysia, hingga kostum latihan tim sepakbola Bahrain.
Hasil keuntungannya ini tidak dia nikamti sendiri. Kebanyakan untungnya banyak mampir ke yayasan Adikaka, sebuah yayasan yang didirikannya bersama beberapa temannya pada 1999. Yayasan itu bertujuan membantu anggota komunitas underground. Program demi program dijalankannya, termasuk dengan mendirikan taman bermain buat anak kecil di sekitar rumahnya.
Phaerly Musadi, Raja Kaos Distro (3-selesai)
Pengalaman masa kecil sebagai korban kekerasan dalam keluarga membuat Phaerly Mauiec Musadi tergerak membantu sesama agar nasib serupa tak menimpa orang lain. Inilah yang mendorongnya membangun bisnis, yang sebagian keuntungannya dia pakai membiayai tujuan mulianya itu. Kini, usaha dan kegiatan sosialnya itu sama-sama sukses.Pengantar: Introduction: Body: Di balik keberhasilan sekarang ini, ternyataphaerlyMauiec Musadi atau biasa disapa Pei punya pengalaman masa kecil yang pahit. Ia sering mendapat pukulan dan kekerasan dari ayahnya. Ia ingin pengalaman itu menimpa orang lain. Pei mengaku, sejak ia kecil, ayahnya menerapkan aturan ketat. Pria berumur 32 tahun ini bercerita, begitu bel pulang sekolah berbunyi pada pukul 12.00, Pei wajib sudah sampai rumah pada pukul 12.10. Sang ayah akan selalu mengecek dengan menelepon. Pei harus mengangkat telepon maksimal setelah mendengar dering telepon dua kali. Kalau tidak, "Saya akan dimarahi habis-habisan," kenang Pei. Meski asli orang Indonesia, Pei lahir dan menghabiskan masa kecil di Jerman. Saat itu, ayahnya mendapat pekerjaan di sana. Saking keras sang ayah, ia kerap mendapatkan pukulan dan diusir saat kemarahan ayahnya memuncak. Begitu beranjak dewasa dan lepas dari sang ayah, Pei menyadari kesalahan ayahnya. "Segala macam kekerasan tidak boleh terjadi pada saya, adik saya, atau siapa pun," ujarnya. Tekad itu ia buktikan dengan mendirikan Yayasan Adikaka sejak tahun 1999. Yayasan ini menjadi jembatan memahami masalah anak muda. Tetapi perjalanan mendirikan Yayasan Adikaka juga tidak mulus. Program yang ia susun banyak yang tidak berjalan karena terbentur masalah dana. "Saya baru tahu, kalau idealis itu ternyata juga butuh dana," kekehnya sedikit menertawakan idenya saat itu. Meski begitu, dengan latar belakang dunia underground yang berprinsip do it your self, Pei tak mau mengemis dana kepada perusahaan atau pendana lain. "Aneh saja, kalau ada acara Yayasan Adikaka, tapi penuh dengan spanduk atau iklan beberapa produk," ujarnya. Maka, Pei membuka distribute merchandising sebagai bagian dari bisnis buat menyokong hidup yayasannya. Agar lebih banyak fokus ke bisnis distribute merchandising, Pei menidurkan sementara aktivitas Yayasan Adikaka. Berkat kegigihannya, usaha Pei semakin sukses. Bukan hanya berhasil memasarkan baju buatannya ke berbagai distro, produk desainnya juga banyak dipesan komunitas dan perusahaan di dalam negeri dan perusahaan di luar negeri. Kini, dalam sehari, ia bisa memproduksi baju dan kaos berkisar antara 400 potong hingga 800 potong. Sukses ini membuat Pei kembali membangunkan yayasannya, pada 2005. Yayasannya mulai menggalang kampanye agar orang tua bersedia memahami masalah anak-anak. Ia ingin menyampaikan pesan bahwa orang tua harus meluangkan waktu bermain bersama anaknya, minimal 15 menit sehari. "Orang tua jangan hanya menuntut anak agar mengerti kesibukan orang tua. Tapi orang tua juga harus mengerti kebutuhan anak. Seperti, mau nonton Sponge Bob bersama atau pergi nonton konser musik sekeluarga," ujarnya. Dari penghasilan bisnis baju distro, Pei juga membangun arena bermain mungil di depan kantornya di Bandung. Ia merasa prihatin dengan semakin minimnya lahan bermain untuk anak-anak. Apalagi di pemukiman padat penduduk seperti tempat tinggalnya di Baranang Siang, Bandung, Jawa Barat. Kini, ada lebih dari 30 anak yang sehari-hari menghabiskan waktunya di arena yang dinamai The Neverland Playground tersebut. Melalui arena bermain ini, Pei mengajarkan anak-anak mematuhi aturan. Yakni, menjaga kebersihan, terbiasa ikut antrean, dan tidak boleh omong kasar. Jika melanggar, anak-anak akan mendapat hukuman mulai dari push-up hingga tidak boleh datang bermain lagi. Jika berprestasi, anak-anak akan mendapat hadiah seperti stiker atau kaos. Semuanya ini dilakukan dengan tujuan tulus. "Saya ingin masa lalu saya tidak terulang lagi," ungkap Pei. Sembari menjalankan yayasannya, Pei juga ingin terus menekuni bisnis bajunya lewat distribute merchandising, sembari beraktivitas di Yayasan Adikaka. Kedua bidang ini memang memiliki tujuan berbeda. "Satu nirlaba dan satu lagi mencari laba. Tapi, keduanya saling mendukung," ujar Pei, diplomatis. (Selesai) (KONTAN 28-30 agustus 2008 lamgiat siringoringo)
Setiap orang bisa menjadi cahaya bagi kehidupan orang lain. Begitulah, masa lalu yang buruk mendorong Phaerly Mauiec Musadi menjadi orang yang peduli dan pebisnis tangguh. Dia mendirikan bisnis pembuatan baju dan yayasan pemerhati anak muda. Bersama komunitas underground asal Bandung, Pei membangun tujuan hidupnya yakni membantu orang lain berkarya.
SIAPA yang tidak mengenal dunia musik underground? Komunitas musik underground identik dengan kekerasan, narkoba, hingga seks bebas. Namun, di tangan seorang penggemar musik underground sepertiphaerlyMauiec Musadi, wajah komunitas underground menjadi berbeda. Pei, begitu dia biasa disapa, tetap setia menikmati aliran underground. Kecintaan pada musik underground mendorong Pei memberdayakan komunitas musik keras itu. Ia menggelar berbagai kegiatan yang bernilai ekonomi dan sosial guna menyingkirkan cap buruk komunitas underground. Bersama dengan komunitas underground di Bandung, Jawa Barat, Pei menjalankan usaha sablon dan konveksi baju. Lewat bisnis bernama Distribute Merchandising itu, Pei mampu memberikan kegiatan yang positif bagi anak-anak underground di daerahnya. Kini, usahanya itu semakin berkibar. Dalam sehari, dia bisa memproduksi baju dan kaos berkisar 400 potong hingga 800 potong. Konveksi karya komunitas underground itu banyak tersebar di distribution outlet (distro) terkenal di sekitar Bandung. Baju buatan mereka juga banyak menghiasi komunitas seperti Harley Owner Motor Indonesia atau komunitas band-band besar di Bandung. Bahkan, Pei pernah mendapatkan pesanan baju dari luar negeri, seperti dari Grand Prix Formula Satu (F1) Sepang, Malaysia, hingga kostum latihan tim sepakbola Bahrain. "Nama kami lumayan terkenal di kalangan pembuat baju di Bandung," ujarnya, bangga. Pei mengawali usaha ini dari Yayasan Adikaka, sebuah yayasan yang didirikannya bersama beberapa temannya pada 1999. Yayasan itu bertujuan membantu anggota komunitas underground. "Termasuk, menjembatani hubungan orang tua dengan anaknya," ujar Pei. Dia melihat, keberadaan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli pada anak muda belum tentu menggunakan pendekatan yang tepat. "Kita harus tahu latar belakang dan watak anak muda. Karakter anak punk, anak reggae, atau anak jalanan berbeda," tandasnya. Sekarang, Pei mampu menjalankan yayasan dan bisnis distronya dengan baik. Keuntungan dari usaha itu dia pakai untuk membuat arena bermain mungil sederhana di depan kantornya. Soalnya, dia prihatin dengan minimnya lahan bermain anak-anak, terutama di pemukiman padat penduduk seperti tempat tinggalnya sekarang. Semua itu Pei lakukan demi kebaikan anak-anak lain. "Saya tidak ingin mereka mengalami masa lalu seperti saya," ujar pria berusia 32 tahun itu. Pei membeberkan kisahnya, bahwa dia berasal dari keluarga berantakan. Dia sering mengalami tindak kekerasan dari ayahnya. Maka, kini dia bertekad membantu anak lain menatap masa depan yang lebih cerah. (Bersambung)
Phaerly Musadi, Raja Kaos Distro Pemuja Underground (2)
Mengambil jalan underground adalah pilihan hidup seorang Phaerly Mauiec Musadi. Yaitu dengan tidak mau menggantungkan hidupnya dengan bekerja pada satu perusahaan. Dengan motto hidupnya yaitu “Do It Your Self”, Pei begitu ia biasa disapa menjalankan usaha sablon dan konveksi baju. Lewat bisnis yang bernama Distribute Merchandising.
Tetapi untuk mendapatkan kesuksesan bukanlah jalan yang mudah untuk dicapai oleh seorang Pei. Dia harus jatuh bangun untuk membangun bisnisnya itu. Dimulai pada tahun 2001, dia membangun bisnisnya itu dengan modal Rp 5 juta dari pinjaman saudaranya. Modal itupun tidak sepenuhnya dipakai karena harus membayar uang kuliahnya di Bandung. “Saat itu saya juga sudah menikah, dan harus memulai hidup dengan duit sebesar itu,” kenangnya.
Alhasil, dia pun memulai bisnisnya itu dengan memproduksi baju-baju untuk dipasarkan sebanyak 2 lusin saja. Itupun dia hanya desain gambarnya saja, karena dia harus mengerjakannya ke tukang sablon. “Saya pasarkan sendiri ke komunitas-komunitas,” ujarnya.
Perlahan-lahan, karena memang dekat dengan kalangan musik Bandung yang suka dengan desain bajunya, Pei berhasil meningkatkan produksinya itu. “Meningkat jadi 6 lusin, saya pasarkan ke distro,” ujarnya. Tidak mau merasa jumawa, Pei mulai melirik produksi baju-baju eksport yang punya kualitas lebih bagus. Dia pun menginginkan agar kualitas bajunya itu bisa sama. Tapi sayangnya untuk bisa menghasilkan baju eksport itu, dia harus memiliki mesin plastisol yang harganya sangat mahal.
“Harganya Rp 70 sampai dengan Rp 100 juta,” ujarnya. Dia tidak mungkin membeli mesin itu, tetapi dia kembali teringat dengan motto hidupnya “Do It Your Self”. “Saya banyak meriset dan bertanya dengan forum tukang cetak baju di luar negri,” ujarnya. Dia pun mulai merakit desain mesin yang bisa menghasilkan baju berkualitas sama. Akhirnya pada tahun 2004, dia berhasil menciptakan mesin sendiri.
Yang membuat namanya semakin berkibar di dunia sablon dan cetak baju. Order pun terus menghampiri Pei. Distro-distro di Bandung semakin senang dengan produksi baju distribute merchandise ini. Bukan hanya itu dia juga berhasil menembus pasar internasional. Baju buatannya pun terbang ke luar negeri, seperti dari Grand Prix Formula Satu (F1) Sepang, Malaysia, hingga kostum latihan tim sepakbola Bahrain.
Hasil keuntungannya ini tidak dia nikamti sendiri. Kebanyakan untungnya banyak mampir ke yayasan Adikaka, sebuah yayasan yang didirikannya bersama beberapa temannya pada 1999. Yayasan itu bertujuan membantu anggota komunitas underground. Program demi program dijalankannya, termasuk dengan mendirikan taman bermain buat anak kecil di sekitar rumahnya.
Phaerly Musadi, Raja Kaos Distro (3-selesai)
Pengalaman masa kecil sebagai korban kekerasan dalam keluarga membuat Phaerly Mauiec Musadi tergerak membantu sesama agar nasib serupa tak menimpa orang lain. Inilah yang mendorongnya membangun bisnis, yang sebagian keuntungannya dia pakai membiayai tujuan mulianya itu. Kini, usaha dan kegiatan sosialnya itu sama-sama sukses.Pengantar: Introduction: Body: Di balik keberhasilan sekarang ini, ternyataphaerlyMauiec Musadi atau biasa disapa Pei punya pengalaman masa kecil yang pahit. Ia sering mendapat pukulan dan kekerasan dari ayahnya. Ia ingin pengalaman itu menimpa orang lain. Pei mengaku, sejak ia kecil, ayahnya menerapkan aturan ketat. Pria berumur 32 tahun ini bercerita, begitu bel pulang sekolah berbunyi pada pukul 12.00, Pei wajib sudah sampai rumah pada pukul 12.10. Sang ayah akan selalu mengecek dengan menelepon. Pei harus mengangkat telepon maksimal setelah mendengar dering telepon dua kali. Kalau tidak, "Saya akan dimarahi habis-habisan," kenang Pei. Meski asli orang Indonesia, Pei lahir dan menghabiskan masa kecil di Jerman. Saat itu, ayahnya mendapat pekerjaan di sana. Saking keras sang ayah, ia kerap mendapatkan pukulan dan diusir saat kemarahan ayahnya memuncak. Begitu beranjak dewasa dan lepas dari sang ayah, Pei menyadari kesalahan ayahnya. "Segala macam kekerasan tidak boleh terjadi pada saya, adik saya, atau siapa pun," ujarnya. Tekad itu ia buktikan dengan mendirikan Yayasan Adikaka sejak tahun 1999. Yayasan ini menjadi jembatan memahami masalah anak muda. Tetapi perjalanan mendirikan Yayasan Adikaka juga tidak mulus. Program yang ia susun banyak yang tidak berjalan karena terbentur masalah dana. "Saya baru tahu, kalau idealis itu ternyata juga butuh dana," kekehnya sedikit menertawakan idenya saat itu. Meski begitu, dengan latar belakang dunia underground yang berprinsip do it your self, Pei tak mau mengemis dana kepada perusahaan atau pendana lain. "Aneh saja, kalau ada acara Yayasan Adikaka, tapi penuh dengan spanduk atau iklan beberapa produk," ujarnya. Maka, Pei membuka distribute merchandising sebagai bagian dari bisnis buat menyokong hidup yayasannya. Agar lebih banyak fokus ke bisnis distribute merchandising, Pei menidurkan sementara aktivitas Yayasan Adikaka. Berkat kegigihannya, usaha Pei semakin sukses. Bukan hanya berhasil memasarkan baju buatannya ke berbagai distro, produk desainnya juga banyak dipesan komunitas dan perusahaan di dalam negeri dan perusahaan di luar negeri. Kini, dalam sehari, ia bisa memproduksi baju dan kaos berkisar antara 400 potong hingga 800 potong. Sukses ini membuat Pei kembali membangunkan yayasannya, pada 2005. Yayasannya mulai menggalang kampanye agar orang tua bersedia memahami masalah anak-anak. Ia ingin menyampaikan pesan bahwa orang tua harus meluangkan waktu bermain bersama anaknya, minimal 15 menit sehari. "Orang tua jangan hanya menuntut anak agar mengerti kesibukan orang tua. Tapi orang tua juga harus mengerti kebutuhan anak. Seperti, mau nonton Sponge Bob bersama atau pergi nonton konser musik sekeluarga," ujarnya. Dari penghasilan bisnis baju distro, Pei juga membangun arena bermain mungil di depan kantornya di Bandung. Ia merasa prihatin dengan semakin minimnya lahan bermain untuk anak-anak. Apalagi di pemukiman padat penduduk seperti tempat tinggalnya di Baranang Siang, Bandung, Jawa Barat. Kini, ada lebih dari 30 anak yang sehari-hari menghabiskan waktunya di arena yang dinamai The Neverland Playground tersebut. Melalui arena bermain ini, Pei mengajarkan anak-anak mematuhi aturan. Yakni, menjaga kebersihan, terbiasa ikut antrean, dan tidak boleh omong kasar. Jika melanggar, anak-anak akan mendapat hukuman mulai dari push-up hingga tidak boleh datang bermain lagi. Jika berprestasi, anak-anak akan mendapat hadiah seperti stiker atau kaos. Semuanya ini dilakukan dengan tujuan tulus. "Saya ingin masa lalu saya tidak terulang lagi," ungkap Pei. Sembari menjalankan yayasannya, Pei juga ingin terus menekuni bisnis bajunya lewat distribute merchandising, sembari beraktivitas di Yayasan Adikaka. Kedua bidang ini memang memiliki tujuan berbeda. "Satu nirlaba dan satu lagi mencari laba. Tapi, keduanya saling mendukung," ujar Pei, diplomatis. (Selesai) (KONTAN 28-30 agustus 2008 lamgiat siringoringo)
Langganan:
Postingan (Atom)