Nafsu konsumsi masyarakat Indonesia terbilang tinggi. Tengok saja, Januari-Juni tahun ini, transaksi ritel tumbuh sebanyak 20% dibandingkan tahun sebelumnya. Ini dialami mulai kelas ritel mulai dari minimarket sampai dengan hipermarket. "Mengalami pertumbuhan 20%," ujar Benjamin Mailool Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Meskipun belum menggambarkan keadaan setelah kenaikan BBM, tetapi kondisi ini menunjukkan kalau nafsu belanja masyarakat memang lah tinggi.
Agak berbeda dengan masyrakat luar Indonesia seperti Amerika Serikat (AS). Meskipun mempunyai Product Domestic Bruto (PDB) yang lebih tinggi, masyarakat di negri paman sam itu ternyata lebih kritis. Lihat saja, rencana starbucks Corp yang akan menutup sekitar 600 gerainya di AS dalam kurun waktu sembilan bulan mendatang. penjualanstarbucksCorp. di AS pun terus merosot. Direktur Keuangan starbucks Pete Bocian mengatakan penutupan gerai itu akan dilakukan merata di seluruh AS. Bocian bilang, perusahaannya terpaksa menutup sebagian gerai karena laba beberapa gerai starbucks yang lokasinya berdekatan turun 25% - 30%.
Padahal Starbucks begitu banyak penggemarnya di Amerika Serikat (AS) yang rela merogoh kocek US$ 4 hanya untuk segelas kopi. Tapi kondisi ini berbeda karena lonjakan harga bensin dan bahan pangan yang membuat konsumen AS semakin pelit. Nah, Starbucks di Indonesia berbeda jarang sekali sepi pengunjung. Bagaimana dengan anda dan saya?